Jangan lupa saksikan inspirasi pagi bersama Jeng Ana setiap hari sabtu dan minggu pukul 08.00 s/d 09.00 WIB di Jak tv.

SOLUSI KESEHATAN KELUARGA INDONESIA


psien

Jangan pernah meremehkan migren. Bila sakit sebelah kepala itu terjadi berulangkali, maka Anda perlu waspada dan segera memeriksakan diri ke dokter. Karena ada kemungkinan hal itu merupakan tanda adanya kanker otak atau miningioma.

Inilah yang dialami Bu Maimunah. Perempuan paroh baya ini semula mengira migren di sisi kanan kepalanya hanyalah sakit biasa. Semula dia hanya mengkonsumsi obat migren biasa yang dibelinya di apotik. Setelah itu, katanya, sakit kepala memang mereda. “Tetapi beberapa saat kemudian kambuh lagi. Begitu terus terjadi. Setelah minum obat kemudian sembuh, tapi kambuh dan kambuh lagi,” terangnya ketika menemani Jeng Ana di acara Medika Natura Jak TV untuk memberi kesaksian, beberapa waktu lalu.

Yang membuat Bu Maimunah cemas, lama kelamaan penglihatan matanya terganggu. “Semula hanya kabur biasa, tapi kemudian semakin kabur, dan bahkan sulit melihat,” ujarnya.

Bu Maimunah pun kemudian datang ke dokter mata. Dia mengira yang dialaminya adalah sakit mata. Setelah diperiksa, sang dokter mendiagnosanya mengalami radang mata. “Saya kemudian dirawat dan diinfus sampai habis enam botol. Tapi ternyata tidak sembuh-sembuh. Bahkan penglihatan saya semakin kabur,” kata Bu Maimunah.

Melihat kondisi ini, kata Bu Maimunah, sang dokter mata kemudian menyarankannya untuk melakukan tes MRI. Dia pun memenui saran tersebut dengan mendatangi dokter di sebuah rumah sakit di Jakarta. Setelah dilakukan MRI, lanjut Bu Maimunah, ternyata diketahui bahwa dirinya menderita tumor otak. “Waktu itu hari Minggu, dan dokter bilang kalau hari Senin keesokan harinya saya harus menjalani operasi,” jelasnya.

Atas saran dokter tersebut, Bu Maimunah merembukkannya dengan suami, anak dan keluarganya. “Semua anggota keluarga menyerahkan keputusan di saya. Tapi saya sangat takut. Bagaimana tidak seram kalau yang dioperasi itu bagian kepala. Saya putuskan untuk menempuh pengobatan alternatif,” kata Maimunah.

Salah seorang anaknya pun kemudian mencari tempat pengobatan alternatif melalui internet, hingga kemudian menemukan Klinik Herbal Jeng Ana yang punya website https://jengana.co.id. “Saat itu juga kami menelepon ke klinik Jeng Ana dan diberi tahu kalau Jeng Ana praktik di Kalibata setiap hari Sabtu dan Minggu. Saya putuskan untuk datang hari Sabtu,” terangnya.

Saat ke klinik Jeng Ana, Bu Maimunah diantar dan dibopong oleh keluarganya, diantaranya Bu Hendra. “Waktu itu dia sama sekali tidak bisa melihat. Bahkan ketika konsultasi dengan Jeng Ana, dia tidak bisa melihat Jeng Ana, hanya bisa mendengar suaranya saja,” sambung Bu Hendra.

Dari hasil rekam medis yang dibawa, kata Jeng Ana, diketahui bahwa Bu Maimunah menderita sphenoid miningioma, yakni sejenis kanker. Penyakit ini biasanya berkembang di belakang mata dan di sepanjang punggung bukit sphenoid ( tubuh tulang berbentuk kupu-kupu di dasar tengkorak ).

Gejala meningioma sphenoid diantaranya berupa hilangnya sensasi , mati rasa wajah dan masalah penglihatan, seperti penglihatan ganda, dan bahkan kebutaan. Sesuai namanya, miningioma jenis ini juga berakibat hilangnya kemampuan penciuman.

“Melihat data MRI yang dibawa Bu Maimunah, ukurannya waktu itu cukup besar, yakni  3,34 x 2,95 x 3,16 cm. Kedua matanya sudah tidak bisa melihat sama sekali,” terang Jeng Ana.

Penyakit ini, jelas Jeng Ana, terjadi karena adanya gangguan keseimbangan hormon. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai sebab, termasuk misalnya penggunaan alat kontrasepsi KB yang tidak cocok. “Alhamdulillah setelah berobat di klinik kami, sekarang Bu Maimunah sudah bisa melihat normal kembali seperti saat ini,” tegas Jeng Ana.

Bu Maimunah mengaku bisa merasakan efek obat herbal yang diberikan Jeng Ana langsung bisa dirasakan, terutama sakit kepalanya yang semula terus-terusan kambuh akhirnya berkurang. Tetapi soal penglihatan, aku Bu Maimunah, baru dia merasakan perkembangan ketika memasuki paket kedua. “Satu paket kan dua bulan. Jadi ketika pertengahan paket kedua, saya sudah mulai bisa mengenali warna. Dan sekarang alhamdulillah penglihatan saya sudah normal kembali,” ujarnya.

Kondisi ini terus berkembang seiring berjalannya pengobatan. “Sekarang saya baru mengambil paket ketiga dan kondisi penglihatan saya sudah pulih. Tinggal penyembuhan total saja,” urainya.

Jeng Ana menambahkan, bahwa pengobatan penyakit jenis kanker tidak bisa dilakukan secara instan. Standar kelaziman yang dilakukan di klinik Jeng Ana adalah sekitar enam bulan. “Biasanya di bagian awal ketika pasien datang sudah kami jelaskan, bahwa MRI tidak bisa dilakukan setiap saat. Standarnya adalah enam bulan kemudian atau ketika memasuki bulan ketujuh baru dilakukan MRI lagi untuk mengetahui kondisi akhirnya,” jelas Jeng Ana.

Meski demikian, bukan berarti pasien baru sembuh setelah enam bulan. Kata Jeng Ana, kecepatan pasien untuk bisa sembuh tidak bisa disamaratakan. Ada yang bisa sembuh setelah tiga paket, tetapi ada juga yang sampai empat paket. “Hal ini dikarenakan kondisi masing-masing pasien kan berbeda. Kami selalu mengikuti perkembangan pasien ketika datang kembali ke klinik. Karena itu MRI di bulan ketujuh itu sangat penting untuk memastikan kondisi akhir pasien. Seperti Bu Maimunah ini, baru minggu lalu mengambil pasien ketiga. Meskipun penglihatannya sudah pulih, namun masih perlu penyembuhan total pada akar kanker atau benjolannya sampai benar-benar bersih,” kata Jeng Ana.

Lantas, obat apa sebenarnya yang digunakan Jeng Ana sampai bisa menyembuhkan kanker? Menurut Jeng Ana, obat yang dipergunakan 100 persen berasal dari herbal atau tanam-tanaman obat. “Sesuai dengan hasil uji lab atau rekam medis kan kelihatan secara jelas apa penyakitnya. Nah, kanker yang diderita Bu Maimunah ini adalah karena bermasalah secara hormonal. Karena itu, ramuan yang kami berikan adalah obat-oabatan herbal yang mampu menyeimbangkan kembali hormon. Karena ada benjolan, maka juga dipergunakan herbal yang fungsinya untuk menggempur benjolan. Gangguan penglihatan pada mata itu adalah terjadi karena saraf mata tertekan oleh benjolan tadi,” paparnya.

Jeng Ana mencontohkan penggunaan akar sidaguri untuk pengobatan bagian saraf, karena tumor pasti mempengaruhi saraf. “Juga akar jeruju yang berfungsi untuk membuang bakteri dan virus yang ada dalam darah, lalu biji nyamplung untuk fungsi kemoterapi. Jadi ada ratusan tanaman obat yang kami gunakan. Tidak bisa hanya satu, dua atau beberapa saja. Semuanya disesuaikan dengan kondisi penyakit pasien,” pungkas Jeng Ana. (*)


++++

Artikel terkait...