Obat-dan-Pengobatan-Khas-Indonesia

Nenek beursia 60-an tahun bernama Hj Sanira itu kini sudah nampak segar dan bisa bicara dengan lancar ketika hadir menemani Ratu Herbal Jeng Ana tampil di acara Medika Natura di Jak TV, beberapa waktu lalu. Padahal pada saat pertama kali datang ke klinik Jeng Ana, beberapa bulan lalu, penderita tumor otak sepanjang 8 cm ini hanya bisa diam.

Pada saat memberikan kesaksian kali ini Hj Sanira didampingi putrinya, Hj Kholidah. Hal ini karena Hj Sanira tidak bisa bicara bahasa Indonesia, sehingga terpaksa Hj Kholida  berperan sebagai penerjemah, sekaligus menceritakan segala sesuatu yang pernah dialami ibundanya. “Kebetulan selama ibu sakit, saya memang yang merawat,” aku Hj Kholida.

Bersarangnya tumor di otak Hj Sanira sebenarnya sudah berlangsung lama. Namun hal ini tidak disadari kalau rasa puyeng dan sakit kepala yang dideritanya itu adalah tumor. Beberapa kali anaknya membawa ke dokter, sehingga diberi obat sakit kepala oleh dokter.

Namun ketika kondisi sakit  semakin parah, tutur Kholida, maka pemeriksaan lebih lanjut pun dilakukan oleh dokter, yakni dengan melakukan  scanning. Hasilnya ternyata diketahui bahwa ada tumor di otak nenek tua itu dengan ukuran yang sudah mencapai 9 cm. “Waktu itu kondisi ibu sudah sangat lemah, tidak bisa mendengar, tidak bisa bicara, tidak bisa mengenali kami anak cucunya dan hanya diam saja. Untuk berjalan pun harus dituntuntun,” cerita Kholida.

Dokter pun kemudian menyarankan agar Hj Sanira menjalani operasi. Namun saran dokter tersebut tidak diikuti. Rembukan anggota keluarga Hj Sanira lebih memilih jalur alternatif. “Sudah banyak pengobatan alternatif yang kami datangi, namun tidak cocok, hingga akhirnya Tuhan menuntun kami untuk bertemu dengan Jeng Ana,” terang Kholida.

Kepada Jeng Ana saat itu, Kholida menyerahkan rekam medis, terutama hasil scan dari dokter. Jeng Ana pun mempelajarinya. Dari hasil scan tersebut, kata Jeng Ana, kondisi tumor memang sudah cukup parah. Pertumbuhan tumor sudah menekan saraf-saraf motorik. “Jadi, syaraf-syarafnya sudah terdesak oleh tumor. Ini yang membuat Ibu Hj Sanira tidak bisa bicara, tidak bisa mengingat, tidak bisa mendengar dan bahkan kalau jalan juga seperti orang stroke, harus dituntun. Waktu datang ke klinik waktu itu, mengenakan sandal saja harus dibantu,” ujar Jeng Ana.

Setelah itu Jeng Ana pun menjelaskan langkah-langkah pengobatan yang akan diberikan kepada Hj Sanira. Selain itu Jeng Ana juga tidak lupa mengingatkan kepada pihak keluarga untuk bersabar dan terus berdoa kepada Allah. “Karena pengobatan herbal itu membutuhkan proses. Nah dengan kesabaran, insyaAllah kalau semua ketentuan pengobatan dilakukan, akan ada hasilnya,” terang Jeng Ana.

Hj Sanira dan Hj Kholida pun membenarkan. Bahwa setelah habis paket pertama dan masuk ke paket kedua, perkembangan pada sang nenek sudah mulai nampak. Bahkan ketika memasuki paket ketiga, Hj Sanira sudah bisa bisa mendengar, bicara dan mengenali kembali anggota keluarganya. “Misalnya waktu itu kalau bapak pulang, ibu sudah bisa membukakan pintu,” kata Kholidah.

Kini, Hj Sanira sudah memasuki paket keenam di Klinik Herbal Jeng Ana. Kondisinya pun sudah mendekati normal. Ketika dilakukan pemeriksaan kembali ke dokter dengan melakukan scan, kata Kholida, ukuran tumornya sudah jauh mengecil. “Tingkat kesembuhannya sudah mencapai 75 persen,” tambah Jeng Ana.

Pihak keluarga Hj Sanira pun memutuskan untuk melanjutkan pengobatan di Klinik Jeng Ana sampai sembuh total, sehingga sampai sekarang masih terus mengkonsumsi obat-obatan herbal dari Jeng Ana. “Ibu tidak kesulitan untuk mengkonsumsi obatnya. Begitu juga dengan aturan pola makan, ibu bisa mematuhinya dengan baik,” tambah Kholida.

Jeng Ana pun menyarankan kepada masyarakat yang menderita tumor otak dengan ukuran yang sudah menekan syaraf-syaraf motorik agar mempertimbangkan dalam-dalam bila memutuskan untuk menempuh cara operasi. Pasalnya, menurut Jeng Ana, cara operasi pada kanker otak dengan stadium sudah tinggi biasanya justru hasilnya bisa fatal, yakni syaraf motorik bisa rusak permanen. “Akibatnya ya tentu saja bisa bisu, tuli, hilang ingatan, secara permanen,” ujarnya.

Tidak hanya itu. Potensi untuk munculnya tumor lagi juga sangat besar, karena cara operasi pada kondisi tumor sudah membesar jelas masih meninggalkan akar-akarnya. “Sisa-sisa tumor atau kanker ini bukannya menyusut, tetapi justru terus berkembang. Jadi sebelum dilakukan operasi, kalau ada obat tradisional yang cocok tentu jauh lebih baik,” paparnya.

Herbalis murah senyum ini pun memberi contoh jenis-jenis herbal yang dipergunakan untuk mengobatinya. Hasil diagnosa dan keluhan-keluhan pasien menjadi pertimbangan penting dalam menentukan herbal apa saja yang dipergunakan. “Untuk jenis tumor atau kanker kami selalu memberinya paket lengkap, mulai dari herbal rebus, 3 jenis kapsul ekstrak, sarang semut, dan juga minyak rempah. Dan tentu saja ditambah air doa dan panduan pola makan,” terang Jeng Ana.

Nah, apa saja jenis herbal yang terkandung di dalam racikan tersebut, menurut Jeng Ana, disesuaikan dengan diagnosa, hasil uji lab atau rekam medis sang pasien. Misalnya kalau syaraf motoriknya sudah kena, maka dipergunakan tanaman-tanaman seperti akar sidaburi, akar deruju, dan sebagainya. Kemudian kalau ada pembengkakan, maka dibantu dengan bawang dayak, rumput dan juraham. Sedangkan kalau  ada benjolan ditambahkan biji nyamplung, nagasari,dan sejenisnya. “Termasuk misalnya kalau juga keluhan di lambung, maka juga diberi obat herbal penyembuhnya. Jadi, jangan khawatir terjadinya efek tertentu, karena racikannya sudah disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien,” pungkas Jeng Ana.


++++

Artikel terkait...