Sabar dalam menghadapi cobaan

Selama beberapa minggu terakhir ini berbagai tekanan dialami oleh Jeng Ana. Berawal dari viral siaran Jeng Ana saat membacakan hasil Magnetic Resonance Imaging (MRI), yang dianggap di luar kompetensinya sebagai herbalis, maka hujatan demi hujatan terus menghantam laksana badai.

Hujatan itu mulai tudingan pembohong hingga munculnya larangan untuk beriklan. Bahkan akhirnya muncul berita bahwa Jeng Ana telah berhenti praktik dan menutup semua layanan pengobatannya.

Meski telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas kekhilafan melakukan pembacaan MRI, hujatan-hujatan tak kunjung surut. Kendati demikian Jeng Ana patut bersyukur sebab diantara badai hujatan tersebut tak sedikit pula yang memberikan support dan menyemangatinya, terutama dari pasien atau keluarga pasien yang berhasil sembuh.

Beberapa di antaranya bahkan menyarankan agar Jeng Ana menerbitkan buku yang berisi testomoni ribuan pasien yang kembali sehat berkat tangan dinginnya.

“A blessing in disguise.” Mungkin inilah idiom yang tepat untuk menggambarkan kondisi yang dialami Jeng Ana. Badai hujatan yang menerpa dirinya ternyata menghadirkan kebaikan yang tersembunyi. Meski terlihat tidak baik pada awalnya ternyata membawa kebaikan atau keberuntungan bagi Jeng Ana.

Namun, soal menghimpun testimoni dari pasien-pasien, oleh Jeng Ana dianggap sebagai hal tidak perlu, sebab bisa menimbulkan riya’, padahal sembuh tidaknya pasien sejatinya ada di tangan Allah SWT. Jeng Ana sadar sepenuhnya bahwa keahlian yang dimilikinya tidaklah berarti apa-apa tanpa adanya izin dan ridho Illahi.

Demikian juga tak ada dokter pakar atau rumah sakit modern super canggih yang dapat menyembuhkan suatu penyakit, semua itu hanyalah sebuah sebab antara saja.

Sungguh ironi, ketika ada segelintir orang yang menghujat keras bahwa Jeng Ana adalah seorang pembohong, sedangkan begitu banyak orang lain yang memberinya pujian dan penghargaan. Jeng Ana memang lebih memilih berdiam diri terhadap kondisi demikian? Ia justeru berfokus harus selalu belajar dan inovatif dalam bekerja dan berkarya. Inovasi akan mempertahankan eksistensi dan tumbuh kembang individu.

Sikap rendah hati dan mendengar merupakan pilihan Jeng Ana untuk mengetahui dan memahami semua faktor terkait dalam pelayanan terhadap pasien. Disamping itu ia menggap pasien sebagai sumber inspirasi. Baginya, pasien adalah tujuan terakhir dalam bisnisnya. Kesembuhan pasien merupakan suatu kepuasaan yang tidak terhingga.

Semua itu adalah hak Allah SWT sedangkan dirinya hanya menjadi wasilah atau jembatan untuk proses tersebut. Jeng Ana percaya, sikap semacam inilah yang akan membangun dirinya semakin besar dan akan tumbuh berkesinambungan.

Jadikan cobaan sebuah pelajaran, jangan pernah mengeluh karena kesusahan, di situ kita diajarkan untuk menjadi orang yang sabar…

Jangan berlomba untuk menemukan kesalahan orang lain, tapi berlombalah untuk menghindari kesalahan yang sama…

Mungkin para penghujat Jeng Ana berpikir bahwa bisnis layanan kesehatan herbal Jeng Ana sudah berakhir. Hal ini sama sekali meleset. Hujatan demi hujatan yang datang justeru menjadi semacam promosi gratis bagi Jeng Ana.

Sebagai bukti, walau tanpa beriklan pasien masih tetap berdatangan ke tempat praktek Jeng Ana. Ini sekaligus menegaskan bahwa Jeng Ana masih tetap eksis dan tempat praktiknya masih tetap beroperasi secara normal.


++++

Artikel terkait...