icuk-710x150

Semua penyakit yang menimpa manusia pasti Allah sudah menurunkan obatnya. Kadang ada orang yang menemukan obatnya, ada juga orang yang belum bisa menemukannya. Oleh karenanya seseorang harus bersabar untuk selalu berobat dan terus berusaha untuk mencari obat ketika sakit sedang menimpanya.

Demikianlah kesimpulan pengalaman dari tiga orang yang nyaris menghadapi kematian akibat penyakit yang mereka derita. Ketiga orang itu, masing-masing adalah Pak Icuk, Pak Dedi dan Cinta Penelope. Nama terakhir tentu tak asing lagi di telinga. Seperti diberitakan berbagai media, artis Cinta Penelope dinyatakan mengalami kekurangan kalium (Hipokalamia) yang bisa berakibat fatal bagi hidupnya. Bahkan, menurut dokter yang memeriksanya umur Cinta divonis akan berakhir dalam hitungan bulan.

Pengalaman yang tak kalah getir dialami oleh Pak Icuk. Ia divonis mengidap Guillain Barre Syndrome atau yang biasa disingkat GBS. Ini adalah sebuah penyakit yang menyerang sistem syaraf perifer. Penyakit ini termasuk salah satu penyakit autoimun yang amat langka dan mematikan. Namun, Pak Icuk yang sudah berulang kali dirawat di Rumah Sakit tak kenal menyerah. Dengan keyakinan bahwa setiap penyakit pasti sudah diturunkan obatnya, Pak Icuk memang kembali sehat seperti sediakala.

Lain lagi pengalaman Pak Dedi. Pegawai negeri sipil (PNS) yang bergaji tidak seberapa besar ini hampir putus asa ketika dokter menyarankan agar cuci darah. Dunianya terasa gelap gulita. Untunglah ia tak kenal menyerah. Berkat keyakinannya bahwa Tuhan menurunkan penyakit selalu dengan obatnya, akhirnya penyakit gagal ginjal Pak Dedi sembuh total.

Ketiga orang itu melewati vonis kematian setelah mengkonsumsi herbal yang diracik oleh Jeng Ana, sang Ratu Herbal Indonesia. Ketiganya hanyalah sebagian kecil dari ribuan orang yang sembuh setelah ditangani Jeng Ana dengan racikan herbalnya. Meski demikian, herbalis bernama asli Ina Soviana ini selalu merendah dengan prestasinya.

“Saya ini bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa. Soal kesembuhan pasien itu tentu adalah karena kehendak Allah semata-mata. Saya hanya menjadi perantara saja,” katanya sambil menunjukkan lesung pipit di kedua belah pipinya.

Kesembuhan artis Cinta Penelope memang telah memancing rasa keingintahuan banyak orang. Ini wajar saja karena dia adalah sosok selebritis yang diberitakan mengidap penyakit mematikan. Namun, bagi Jeng Ana kesembuhan itu bukanlah hal yang luar biasa, sebab sebagai herbalis dirinya selalu meyakini bahwa Allah sudah menurunkan penyakit dengan obatnya, kecuali penyakit bernama kematian.

“Yang terpenting adalah ikhtiar dan ijtihad. Kalau keduanya sudah dilakukan, maka kita tinggal menunggu janji Allah. Dan kita harus yakin sepenuhnya kalau Allah itu tidak mungkin akan berbohong dengan janjinya,” tandas Jeng Ana.

jna-cintaArtis Cinta Penelope telah dinyatakan sembuh total dari penyakitnya dan bersiap menikah pada April 2014 mendatang. “Ini benar-benar karunia sangat besar buat aku. Terimakasih, Jeng Ana!” ungkapnya saat ditemui di Klinik Herbal dan Salon Aura Jeng Ana di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan.

Kebahagiaan yang sama juga dirasakan oleh Pak Icuk dan Pak Dedi. Mereka sudah menjalani kehidupan normal. Pak Icuk yang mengidap Guillain Barre Syndrome (GBS) dan sempat tidak bisa menelan apapun bahkan sekedar air liurnya sendiri, saat ini sudah melewati hari dengan senyum dan kebahagiaan bersama keluarganya. Padahal sewaktu sakit ia bagaikan mayat hidup karena kehilangan berat badan dari 75 kg menjadi 19 kg.

“Sebelum Allah mempertemukan saya dengan Jeng Ana, harapan hidup saya sudah sangat tipis. Syukur Alhamdulillah, berkat motivasi dan ramuan herbal yang diberikannya, saya bisa kembali seperti ini,” cerita Pak Icuk sambil menunjukkan postur tubuhnya yang sudah normal kembali.

Pak Dedi yang sudah sempat dipasangi selang untuk cuci darah sekarang juga sudah menjadi manusia normal. Berkat mengkonsumsi ramuan herbal Jeng Ana ginjalnya sudah membaik dan dinyatakan sehat. Sebagai pegawai negeri yang bergaji pas-pasan ia pun amat bersyukur karena bisa melewati sakitnya tanpa perlu menghabiskan biaya rumah sakit yang sangat besar jumlahnya.

“Allah memang tidak mungkin ingkar pada janjiNya. Dia menurunkan penyakit pasti dengan obatnya. Itulah yang saya buktikan. Tentu lewat perantaraan Jeng Ana sebagai penyembuh herbal,” ungkap Pak Dedi dengan penuh kelegaan.

Mengapa Harus Herbal?

Dengan contoh kesembuhan tiga orang di atas yang sudah divonis dekat dengan kematian, maka jelas penyembuhan  herbal tidak dapat dipandang sebelah mata. Tentu saja ini bisa dilihat hasilnya kalau sang penyembuh herbal itu benar-benar memiliki keahlian yang dapat dipertanggungjawabkan. Artinya, dia bukanlah seorang yang hanya mengaku-aku sebagai herbalis. Dewasa ini memang banyak herbalis gadungan yang pada akhirnya mendistorsi dari kualitas penyembuhan herbal itu sendiri.

Menurut Jeng Ana, dalam proses mengkonsumsi herbal sifatnya individual. Maksudnya, efek dan khasiat yang dirasakan berbeda-beda dari orang yang satu dengan yang lainnya. Setelah memilih herbal yang paling tepat, konsumsilah dengan teratur dan konsisten. Jangan berharap kesembuhan dalam hitungan hari. Walau ada testimoni spektakuler yang sembuh hanya dalam beberapa hari, tanpa tidak selamanya ini terjadi pada semua orang.

“Khasiat satu herbal belum tentu berlaku sama bagi setiap orang. Dalam penyembuhan, herbal memperbaiki sistem metabolisme tubuh secara keseluruhan. Dampaknya memerlukan waktu lebih lama dibandingkan dengan obat-obatan konvensional. Tetapi hasilnya jauh lebih baik dan holistik,” terang Jeng Ana.

Mengkonsumsi obat-obatan konvensional yang mengandung bahan kimia justeru berbahaya. Selain akan menimbulkan resisten tubuh yang mengakibatkan penyakit menjadi lebih kebal terhadap obat-obatan, fungsi obat kimia pada dasarnya juga tidak benar-benar menyembuhkan suatu penyakit. Reaksi yang ditimbulkan oleh obat kimia hanya menekan gejala penyakit saja dan mengurangi rasa sakit sementara.

Penggunaan obat berbahan kimia juga dapat menimbulkan efek samping yang luas bagi kesehatan tubuh, apalagi jika obat kimia digunakan dalam jangka panjang. “Hal ini terkait erat dengan sistim pencernaan yang ada di dalam tubuh kita,” tandas Jeng Ana.

Dijelaskan, sistim pencernaan manusia ada dua macam yakni proses pencernaan secara mekanik dan proses pencernaan secara kimiawi (enzimatis). Proses pencernaan secara makanik yakni mengubah makanan dari bentuk besar atau kasar menjadi bentuk kecil dan halus. Tentu saja ini tidak ada masalah. Yang menjadi masalah adalah proses pencernaan secara kimiawi, yakni mengubah makanan dari zat yang kompleks menjadi zat-zat yang lebih sederhana dengan menggunakan enzim. Enzim adalah zat kimia yang dihasilkan oleh tubuh yang berfungsi mempercepat reaksi-reaksi kimia dalam tubuh.

“Jika dalam proses pencernaan kimiawi ini terdapat zat-zat kimia yang asing bagi tubuh, tentu akan sangat berbahaya. Saya umpamakan lambung kita ini seperti mesin giling tepung beras. Kalau yang diproses dalam mesin ini konsisten beras, tentu mesinnya akan awet dan tidak bermasalah. Tapi coba yang diproses kelapa, tentu mesinnya tetap bisa bekerja, tapi lama kelamaan akan rusak dan bermasalah. Nah, ini juga yang terjadi dalam tubuh kita. Karena dipaksa memproses zat-zat kimiawi yang asing, maka terjadi masalah yakni dengan datangnya penyakit. Celakanya, zat-zat kimia itu bukan hanya terdapat di dalam obat-obatan tapi juga di dalam makanan, seperti bahan pengawet, zat pewarna dan lain sebagainya. Makanya jangan heran kalau sekarang ini orang lebih mudah terserang penyakit yang sifatnya berbahaya,” papar Jeng Ana panjang lebar.

Di tengah ketidak terus terangan kandungan bahan kimiawi berbahaya bagi kesehatan yang terdapat dalam obat-obatan dan makanan, maka jelas pilihan terbaik jatuh kepada herbal. Penyembuhan herbal jelas sangat aman, dan lebih dari itu amat dianjurkan dalam ajaran agama Islam. Berikut adalah ayat dalam Al Qur’an dan hadist Nabi yang menganjurkan manusia untuk mengonsumsi obat herbal:

  1. “Dia Menumbuhkan untuk kegunaan kamu, minyak zaitun, kurma dan segala anggur, juga setiap buah-buahan. Sesungguhnya dalam hal yang demikian terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Qs. An-Nahl :11)
  2. “Dari perut lebah itu keluar minuman madu yang bermacam-macam jenisnya dijadikan sebagai obat untuk manusia. Di dalamnya terdapat tanda-tanda Kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mau memikirkan.” ( An-Nahl : 69 )
  3. “Gunakanlah habbatussauda karena di dalamnya terdapat obat untuk segala macam penyakit, kecuali maut.” (HR. Bukhori Muslim).
  4. “Hendaklah kamu menggunakan kedua obat-obat: madu dan Al-Qur’an” (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Mas’ud)
    Selain khasiat dari obat-obatan herbal itu sendiri, banyak faktor lain yang juga memiliki andil dalam menentukan sukses tidaknya suatu pengobatan alternatif, yaitu sikap, gaya hidup, dan kondisi kejiwaan. Pengamatan para dokter menunjukkan bahwa penyerapan obat di usus lebih baik jika pasien tidak stress.

“Nah, untuk mengurangi stress ini jalan satu-satunya adalah dengan ibadah mendekatkan diri kepada Allah. Inilah salah satu terapi yang selalu saya anjurkan kepada para pesian saya. Kalau mereka bersungguh-sungguh mengkonsumsi herbal dan menjalankan nasehat-nasehat saya, maka Allah dipastikan akan menyembuhkan penyakitnya. Anda harus berprasangka baik pada Allah. Inilah kuncinya,” tegas Jeng Ana, menutup bincang-bincang santainya. (*)


++++

Artikel terkait...