serviks2-710x150

Riset terbaru mengungkapkan sekitar 88,78% dari 3.040 pelajar SMP putri hingga mahasiswi (13-25 tahun) Indonesia merokok. Mereka mengonsumsi 1-10 batang dalam hidup mereka. Padahal, kebiasaan merokok di kalangan wanita menjadi salah satu penyebab potensial serangan kanker serviks, disamping juga disebabkan oleh kawin di usia dini, penggunaan kontrasepsi oral jangka panjang, kehamilan yang sering, dan penyakit menular seksual.

“Saya hanya ingin mengingatkan, hentikanlah kebiasaan merokok bagi kaum wanita. Kalau tidak, Anda akan sangat potensial menjadi pengidap kanker serviks,” tandas Jeng Ana saat dihubungi di Klinik Herbal Jeng Ana, Kalibata, Jakarta.

Kanker serviks atau kanker leher rahim, atau yang sering juga disebut kanker mulut rahim, merupakan salah satu penyakit kanker yang paling banyak terjadi bagi kaum wanita. Setiap satu jam, satu wanita meninggal di Indonesia karena kanker serviks ini.

Salah serang pasien Jeng Ana yang berhasil sembuh dari ancaman kanker mematikan ini adalah Ibu Nomih (41). Sebagai perempuan yang hidup di desa, Nomih tentu saja tidak pernah mengenal istilah kanker serviks atau kanker leher rahim. Sampai kemudian malapetaka itu datang menimpa dirinya. Berawal dari jadwal mentruasinya yang tidak menentu. Bahkan, tak jarang tamu bulanan itu datang berminggu-minggu dan tidak pernah terhenti, dengan disertai rasa nyeri pada perut dan daerah kewanitaannya.

Nomih memeriksakan diri ke dokter di puskesmas. Dokter hanya mendiagnosis penyakit Nomih sebagai nyeri haid biasa, dan ia disarankan untuk memperbanyak istirahat dan mengurangi stres.

Karena ingin sehat, Nomih menjalankan semua nasehat dokter. Namun, keadaannya bertambah parah. Sampai suatu hari, karena tak kuat menahan sakit pada perutnya ia jatuh pingsan dan dilarikan ke rumah sakit terbesar di kota kabupaten. Dari sinilah akhirnya diketahui kalau ia mengidap penyakir kanker serviks stadium 4. Karena ketiadaan peralatan di rumah sakit itu, pihak rumah sakit pun menolaknya dan menyarankan agar Nomih dibawa ke rumah sakit khusus kanker di Jakarta.

Ketiadaan biaya membuat Nomih dan keluarga hanya bisa pasrah. Nomih ibarat hanya menunggu nasib. Ia dirawat di rumah dengan obat-obatan seadanya. Karena itulah kondisinya semakin memburuk. Bahkan, aroma kurang sedap yang bersumber dari organ intimnya sudah tercium dalam jarak beberapa meter.

Beruntung, Nomih punya karib bernama Asnah. Jauh sebelumnya, Asnah mengidap kanker payudara dan berhasil sembuh setelah ditangani oleh Jeng Ana. Ia pun menyarankan agar Nomih berobat ke Jeng Ana.

“Waktu datang ke tempat praktek Jeng Ana di Kalibata keadaan saya sudah benar-benar buruk. Bahkan, saya sudah tidak sadarkan diri karena rasa sakit yang begitu menyiksa,” cerita Nomih yang dibenarkan oleh Jeng Ana.

“Setelah saya beri Air Doa, Ibu Nomih sadarkan diri,” tambah Jeng Ana.

Singkat cerita, setelah minum satu paket ramuan herbal Jeng Ana, atau dalam jangka waktu sekitar 2 bulan, keadaan Nomih terus membaik. Setelah dilab kanker serviksnya sudah mengalami kesembuhan yang sangat berarti.

“Sekarang saya sudah benar-benar sembuh. Saya tidak mengalami rasa sakit lagi. Pokoknya, saya sudah menjalani hari-hari yang normal seperti dulu sebelum sakit,” tutur Nomih yang mengaku sangat bersyukur karena Allah SWT telah mempertemukan dirinya dengan Jeng Ana.

Menurut sebuah riset, di dunia, setiap 2 menit, seorang wanita meninggal akibat Kanker Serviks. Bahkan di Indonesia, setiap 1 jam diperkirakan ada wanita yang meninggal karena serangan kanker ganas ini.

“Ketidaktahuan para wanita akan ancaman kanker serviks juga turut membantu banyaknya wanita yang meninggal akibat penyakit ini,” tegas Jeng Ana seraya menyebutkan hampir 99 persen pasiennya berhasil sembuh setelah mengkonsumsi ramuan herbal racikannya.

“Yang terpenting pasien harus disiplin dalam pola konsumsi makanan dan mengikuti semua anjuran saya. Insya Allah kesembuhan yang diharapkan akan terbukti,” tambah herbalis berjuluk Ratu Herbal Indonesia itu.

Menurutnya pula, masyarakat awam yang sering ia temui masih belum memahami perbedaan antara Kanker Serviks atau kanker pada leher rahim dan kanker rahim. “Perlu diketahui pula, bahwa setelah tes kanker pada leher rahim, belum tentu seseorang itu terbebas dari kista atau myom,” tambahnya lagi.

Jika kanker serviks ditemukan dalam tahap pra kanker, maka masih terdapat potensi untuk kesembuhan sejak awal. Namun, “Jika memang kanker serviks sudah telanjur diidap, sebaiknya jangan berputus asa. Berdasarkan pengalaman yang saya jalani, insya Allah penyakit ini bisa disembuhkan. Contoh paling nyata adalah Ibu Nomih. Tentu saja masih banyak pasien saya yang lain. Prinsifnya, tidak ada satu penyakit pun yang tidak ada obatnya, kecuali ketuaan dan kematian,” jelas Jeng Ana, diplomatis.

Sejauh pengalaman prakteknya, untuk mengatasi penyakit kanker serviks salah satunya bisa menggunakan herbal Sarang Semut (Myrmecodia pendans). Tanaman ini berasal dari Papua, dan secara tradisional telah digunakan oleh penduduk asli Papua untuk mengobati berbagai penyakit secara turun-temurun, termasuk berbagai jenis kanker.

“Kemampuan Sarang Semut secara empiris sebagai obat kanker serviks adalah karena kandungan flavonoidnya. Ada beberapa mekanisme kerja dari flavonoid dalam melawan kanker, misalnya inaktivasi karsinogen, antiproliferasi (menghambat proses perbanyakan sel abnormal pada kanker), penghambatan siklus sel, induksi apoptosis dan diferensiasi, inhibisi angiogenesis, dan pembalikan resistensi multi-obat atau kombinasi dari mekanisme-mekanisme tersebut,” terang Jeng Ana, menutup bincang-bincang santainya dengan media ini.

 


++++

Artikel terkait...