bu-latifah-710x150

Apa yang dialami oleh Bu Latifah ini barangkali juga pernah menimpa Anda ataupun kerabat Anda. Setelah menjalani operasi kanker usus yang berbiaya mahal, perempuan berusia 50-an tahun ini masih harus merogoh uang jutaan rupiah untuk menjalani kemoterapi.

Kondisi ini dialami oleh Bu Latifah sekitar tahun lalu. Saat itu, sekitar 1,5 bulan lamanya Bu Latifah menderita sakit pada bagian pinggang secara terus-menerus. Karena gtidak tahan, maka dia pun kemudian membawanya ke dokter. Setelah menjalani pemeriksaan lab, walhasil dokter memvonisnya menderita kanker usus dan harus segera dioperasi. “Waktu itu saya menuruti saja apa kata dokter sehingga saya dioperasi,” terang Bu Latifah saat memberi kesaksian bersama Ratu Herbal Jeng Ana di Studio Jak TV, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Selesainya pengangkatan kanker ternyata sama sekali bukan berarti Bu Lutfiah sembuh. Selama sekitar seminggu Bu Latifah mengaku tidak enak makan dan hampir 24 jam setiap hari tidak bisa tidur. Tak hanya itu, masih ada tahapan pengobatan, yakni kemoterapi yang harus dijalani secara rutin dalam jangka waktu cukup lama. “Kata dokter sekitar 10 tahun. Padahal untuk sekali kemo saja biayanya satu jutaan. Darimana saya uang sebanyak itu,” keluh Bu Latifah.

Dengan situasi seperti ini, menantu Bu Latifah yang kebetulan bekerja di bidang kesehatan lantas berkonsultasi dengan dokter di tempatnya bekerja. Sang dokter, kata Bu Latifah, menyarankan agar menempuh pengobatan herbal saja. “Itulah sebabnya sekitar seminggu kemudian kami datang ke Klinik Jeng Ana yang ada di Tangerang City,” paparnya.

Kepada Jeng Ana, Bu Latifah menyerakan semua rekam medis dan hasil lab dari dokter. Dari data-data tersebut, sambung Jeng Ana, terlihat bahwa terdapat bakteri, virus, dan juga alergi pada kanker yang dioperasi tersebut. “Itu terlihat dari data lab yang diberikan oleh dokter,” terang Jeng Ana.

Berdasarkan data-data tersebut, Jeng Ana kemudian meracikkan obat herbal yang sesuai dengan kondisi sang pasien. “Alhamdulillah hanya sekitar lima hari setelah mengkonsumsi ramuan dari Jeng Ana, kondisi badan saya sudah terasa pulih kembali. Sudah enak makan dan tidur. Badan juga rasanya lebih ringan,” ujar Bu Latifah.

Pada saat Bu Latifah datang untuk kedua kalinya ke Jeng Ana, sekitar dua bulan kemudian, kondisinya sudah benar-benar sehat. “Dari hasil lab nampak bahwa bakteri, virus dan juga alergi yang semula ada, kali ini sudah bersih. Hanya Hematokritnya saja yang masih bermasalah, mungkin karena imunnya belum 100 persen sembuh,” terang Jeng Ana.

Hemotokrit i proporsi volume darah, yang termasuk di dalamnya adalah eritrosit dan hemoglobin. Dalam kaitannya dengan imun, kata Jeng Ana, hemotorkti itu mensuplai  pembuluh darah otak kanan dan kiri. Kalau suplainya rendah, maka yang kita rasakan adalah pusing.

Nah, menyelesaikan paket kedua, sisa-sisa sel kanker yang biasanya harus dikemo itu kali ini sudah relatif bersih. Jadi, kata Jeng Ana, pada tahap ini kondisi pasien sudah mendekati sembuh total. Yang perlu dilakukan tinggal pemulihan.

Karena itu, Bu Latifah masih melanjutkan ke paket ketiga. Na, mengenai pembelian obat, Jeng Ana menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman pada pasien ataupun calon pasien. Bahwa Jeng Ana sama sekali tidak pernah memaksa atau mengharuskan pasien untuk membeli obat. “Ketika pasien datang, yang kami lakukan adalah memberi konsultasi, menjelaskan apa dan bagaimana sesuai dengan hasil rekam medis yang mereka bawa. Nah dari situ kami sampaikan bahwa untuk menyembuhkannya diperlukan obat ini dan itu. Soal apakah pasien membeli obatnya atau tidak, atau barangkali hanya membeli sebagian saja, itu sepenuhnya kami serahkan kepada pasien,” pungkas Jeng Ana. (*)

 


++++

Artikel terkait...