Jeng-Ana

Sebagai manusia biasa, dokter kadang bisa saja salah mendiagnosa penyakit, seperti yang dialami oleh Bu Ani. Perempuan berusia 40-an tahun ini memeriksakan dirinya ke dokter begitu merasakan adanya semacam benjolan di sekitar anusnya.

“Saya raba-raba kok semakin hari semakin besar, saya takut sehingga saya periksakan ke dokter. Dokter sangat yakin kalau yang saya alami adalah ambeien atau wasir, sehingga tidak perlu dilakukan endoskopi,” jelas Bu Ani saat menemani Ratu Herbal Jeng Ana tampil di Jak TV, beberapa waktu lalu.

Tapi Bu Ani tidak yakin dengan penjelasan dokter tersebut. Karena itu dia memeriksakan lagi ke dokter lainnya. Tetapi ternyata hasil diagnosanya sama, yakni ambeien. “Padahal yang saya rasakan sama sekali beda dengan ambeien. Karena memang ada semacam benjolan. Kalau ditekan ada yang keras,” tutur Bu Ani.

Keyakinan perempuan paro baya ini didasari pengalaman yang pernah diderita ibu kandungnya. “Ibu saya pernah mengalami kanker usus besar, jadi saya sangat mengerti soal penyakit ini. Karena itu, saya kemudian datang ke Jeng Ana,” ujar Bu Ani.

Pada saat pertama kali datang ke Klinik Herbal Jeng Ana, Maret 2013 lalu, kondisi Bu Ani sudah cukup memprihatinkan. Selain karena ukuran benjolan yang dideritanya sudah semakin besar, kata Jeng Ana, kondisi psikisnya juga drop. “Kondisi psikologi pasien itu sangat mempengaruhi penyakitnya. Apalagi untuk penyakit sejenis kanker,” terang Jeng Ana.

Setelah Bu Ani menjelaskan semua gejala yang dialaminya, Jeng Ana pun yakin bahwa penyakit yang dideritanya adalah kanker rektum. Kebetulan Bu Ani memang punya keturunan penderita kanker usus besar atau kolon. “Kalau ambeien itu yang terjadi adalah gangguan pada pembuluh darah yang tersumbat. Yang dirasakan pasien ketika BAB itu ada yang seolah ada selaput yang mau keluar. Sedangkan untuk penderita hemoroid biasanya kalau BAB disertai dengan keluarnya darah. Sementara yang diderita Bu Ani tidak seperti itu,” papar Jeng Ana.

Dari penjelasan Bu Ani, kata Jeng Ana, yang dirasakan adalah ada semacam tarikan pada bagian antara pantat dan paha. Karena itu dia sering mengalami kram atau semacam pegal-pegal pada bagian antara pantat dan paha. “Ini terjadi karena  benjolan itu kan punya akar yang menjalar ke bagian pantat dan paha. Ini yang dirasakan Bu Ani semacam ada tarikan,” ujar Jeng Ana.

Dengan kondisi seperti itu, Jeng Ana kemudian memberikan ramuan yang tentu saja sesuai dengan penyakit yang diderita Bu Ani, yakni kanker rektum, baik berupa ramuan seduh untuk diminum, kapsusl ekstrak, rempah untuk mandi maupun air doa dan minyak rempah. “Selain itu juga ada sedikit tambahan pada ramuan sesuai dengan keluhan yang dirasakan Bu Ani,” ujarnya.

Begitu meminum ramuan yang diberikan Jeng Ana, kata Bu Ani, reaksinya benar-benar hebat. “Badan saya rasanya seperti remuk. Sampai-sampai saya lemas. Itu berlangsung selama sekitar seminggu sampai 10 hari. Kalau nggak tahan mungkin saya sudah berhenti mengkonsumsi obat itu. Tetapi saya terus konsultasi sehingga saya terus minum obatnya,” ujar Bu Ani.

Menurut Jeng Ana, apa yang dirasakan Bu Ani merupakan tanda bahwa obat sedang bekerja. “Disitulah pasien diuji apakah sabar dalam menjalani pengobatan. Untung Bu Ani terus berkonsultasi dengan kami. Dan alhamdulillah sekarang beliau sudah sembuh,” kata Jeng Ana.

Hingga kesembuhannya Bu Ani mengkonsumsi tiga paket. “Sekarang saya sudah tidak merasakan sakit sama sekali. Benjolan di rektum saya juga sudah tidak ada. Bahkan saya sudah periksakan ke dokter katanya sudah tidak ada benjolan lagi. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur.” (*)

 


++++

Artikel terkait...