Ilustrasi gambar kanker

Rasulullah SAW bersabda:

Setiap penyakit itu pasti ada obatnya. Oleh karena itu, barang siapa yang tepat dalam melakukan pengobatan suatu penyakit, maka dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla dia akan sembuh.” [HR. Muslim].

Sedangkan kewajiban kita adalah berkikhtiar dalam mencari obatnya dengan usaha yang maksimal. Perjuangan itulah yang telah dilakukan oleh Anjani (36). Siapa sangka kalau wanita ayu yang selalu menebar senyum ini dulunya adalah penderita kanker rahim. Ia terdeteksi mengidap kanker rahim pada stadium 3.

Menurut beberapa orang dokter yang merawatnya, penderita kanker rahim stadium 3 memiliki kemungkinan sekitar 45 persen untuk bertahan hidup selama setidaknya lima tahun. Namun, Anjani telah menjadi saksi bahwa prediksi ini tidak sepenuhnya benar.

Seperti dikisahkannya, memasuki awal tahun 2005, tubuhnya mulai digerogoti kanker dan selama itulah ia telah berusaha keras berobat secara medis. Bukan hanya di dalam negeri, namun juga ke luar negeri. Upaya yang tak kenal menyerah ini sampai-sampai nyaris menghabiskan seluruh harta benda miliknya. Di saat-saat terakhir ia hampir putus asa.

Berbagai obat-obatan sudah saya konsumsi. Yang berlum hanya satu saja yaitu kemoterapi, sebab saya percaya pada informasi yang saya terima bahwa upaya ini malah bisa memperparah kondisi saya,” kenang Anjani kepada media ini.

Bagaimana ia bisa tabah menghadapi semuanya? Dan bagaimana ia mendapatkan senyumnya kembali? Berikut penuturan Anjani yang kami kemas dalam bentuk pengakuan:


Saya adalah ibu dari empat orang anak. Sejak kecil suka sekali berolah raga, saya berbahagia atas keadaan tersebut. Tetapi semua itu tiba-tiba hilang ketika mengetahui ada kelainan di tubuh saya tepatnya 9 April 2005 silam. Awalnya haid saya tidak teratur dan terjadi di luar siklus. Berikutnya (maaf) vagina saya membengkak diikuti pula dengan pembengkakan di paha sebelah kiri. Keluhan lainnya, kewanitaan saya kerap mengalami pendarahan abnormal dan sakit sekali rasanya.

Tidak hanya itu penderitaan yang saya alami. Selain mengidap kanker payudara, saya juga divonis oleh dokter mengidap kelainan katup jantung, ditambah radang tenggorokan yang parah serta gangguan di hidung seperti sinusitis.

Bahkan gangguan sinusitis ini sudah berlangsung hampir selama 15 tahun. Berbagai cara sudah ditempuh untuk mengobati sakit saya. Setelah gagal berobat di sejumlah rumah sakit di dalam negeri, atas desakan suami setiap dua minggu sekali saya juga berangkat ke Kuching (Malaysia) untuk berobat.

Obat-obatan tradisional dan sinshe serta pengobatan mirip perdukunan juga sudah saya jalani. Tetapi semuanya tidak ada hasil yang menggembirakan. Biaya di pengobatan yang begitu mahal, harta sudah habis terjual, penyakit semakin parah, tidak bisa merawat suami dan anak-anak yang sangat saya sayangi. Semua ini semakin membuat saya putus asa untuk hidup lagi.

Di tengah keputusasaan untuk hidup, Tuhan membuka jalan bagi saya. Sahabat saya, Ibu Nelly Karmila memperkenalkan saya pada Jeng Ana. Beliau bilang jangan pikirkan biayanya, tetapi pikirkan kualitasnya. Menurut Ibu Nelly, upaya Jeng Ana sudah terbukti bisa membantu banyak pasien kanker.

Jujur saja, mulanya saya ragu dan tidak percaya untuk berobat ke Jeng Ana yang memberikan herbal berupa ramuan rebus itu, karena obat-obatan dokter dan obat lainnya saja tidak bisa memberikan hasil yang saya harapkan yakni sembuh dari penyakit.

Berkat dorongan Ibu Nelly dan keyakinan saya kepada janji Rasulullah SAW yang mengatakan dalam haditsnya bahwa “setiap penyakit itu pasti ada obatnya,” maka saya berobat ke Jeng Ana. Tahap awal, saya mengkonsumsi satu paket racikan herbal Jeng Ana. Setelah dua minggu mengkonsumsi racikan herbal tersebut, alangkah menakjubkan hasilnya.

Badan terasa segar dan tidak sempoyongan lagi. Sejak itu selama tiga bulan berturut-turut saya mengkonsumsi 4 paket racikan herbal Jeng Ana. Setelah diperiksa lagi oleh lima dokter di Malaysia ada kelegaan di hati saya. Kanker rahim saya mengecil, kistanya pun pecah keluar lewat haid berbentuk gumpalan darah beku kecil-kecil, radang tenggorokan saya sembuh dan gangguan hidung selama 15 tahun lenyap.

Setiap hari saya selalu berdoa dan bersyukur kepada Allah bahwa saya masih diberi jalan untuk hidup karena saya masih ingin merasakan kebahagiaan seperti dulu lagi. Setelah enam bulan mengkonsumsi herbal Jeng Ana, saya kembali ke Kuching (Malaysia) untuk diperiksa lagi. Alhasil tidak terdeteksi adanya sel-sel kanker lagi.

Merasa kurang percaya, dua bulan sesudah itu saya check lagi di Kuching hasilnya sama. Alangkah bahagianya saya dan keluarga mendengar itu semua. Sejak saat itu saya tidak minum obat dokter lagi dan hanya minum herbal Jeng Ana setiap hari. Alhamdulillah, berat badan saya yang semasa sakit tinggal 37 kg saja sekarang sudah naik 47 kg….


 

Tips Berobat

Demikianlah kesaksian Ibu Anjani yang benar-benar telah membuktikan keandalan racikan herbal Jeng Ana. Kendati demikian, hasil menggembirakan ini tidak membuat Jeng Ana menyombongkan dirinya. Menurutnya, semua itu adalah berkat kuasa Allah yang memang Maha Penyambuh.

Saya ini hanya pengobat, sedangkan yang Maha Penyembuh adalah Allah SWT. Jadi, Dia-lah yang telah menyembuhkan pasien-pasien saya, sedangkan saya ini hakikatnya hanyalah manusia biasa saja,” tegas Jeng Ana sambil tersenyum menawan.

Menurut wanita yang memang murah senyum ini, dalam usaha kita mengobati penyakit yang diderita, kita harus memperhatikan 2 hal sebagai berikut:

Pertama, bahwa obat dan dokter atau pengobat lainnya hanya sarana kesembuhan, sedangkan yang benar-benar menyembuhkan adalah Allah SWT.

Kedua, ikhtiar mencari kesembuhan tidak boleh dilakukan dengan cara-cara yang haram dan syirik. Yang haram ini seperti berobat dengan menggunakan obat yang terlarang atau barang-barang yang haram, karena Allah tidak menjadikan penyembuhan dari barang yang haram. Dan tidak boleh pula berobat dengan hal-hal yang syirik, seperti pengobatan alternatif dengan cara mendatangi dukun, tukang sihir, paranormal, orang pintar, menggunakan jin, pengobatan jarak jauh atau yang semisalnya yang tidak sesuai dengan syari’at, sehingga dapat mengakibatkan jatuh ke dalam syirik dan dosa besar yang paling besar.

Metode pengobatan yang saya lakukan sangat ilmiah dan jauh dari praktek syirik, yakni dengan memberikan pasien racikan herbal yang masih berupa simplisia murni. Saya juga selalu menekankan agar pasien selalu membuktikan kesembuhannya lewat uji laboratorim. Hal ini seperti dilakukan oleh Ibu Anjani,” tegas Jeng Ana lagi sekaligus menutup perbincangan.***

 

 


++++

Artikel terkait...