Jangan lupa saksikan inspirasi pagi bersama Jeng Ana setiap hari sabtu dan minggu pukul 08.00 s/d 09.00 WIB di Jak tv.

SOLUSI KESEHATAN KELUARGA INDONESIA


ectopic-pregnancy-710x150

Assalamu’alaikum wr. wb.

Salam kenal Jeng Ana. Saya Uliyah. Pada Oktober 2010 lalu saya dikuret, setelah 3 bulan saya hamil lagi. Saat di-USGg tidak terlihat kalau saya hamil. Tapi setelah itu saya mengalami blooding hingga hampir pingsan. Ternyta setlah dicek saya mengalami hamil di luar kandungan/ektopik.

Menurut dokter, ini terjadi karna ada infeksi panggul/penyempitan/lengket/penyakit menular dari suami. Saat ini hampir setahun sejak kehamilan ektopik itu. Menurut dokter, saluran tuba saya tinggal satu. Sudah hampir satu tahun saya menanti kehadiran buah hati, apakah ada obatnya? Terimakasih

uliyah
novilasuliyah@yahoo.co.id

JAWAB:

Wa’alaikum salam.

Kami ikut prihatin dengan apa yang sudah Ibu alami. Disebut kehamilan di luar rahim (kehamilan ektopik) karena sel telur yang telah dibuahi tidak melekat di rahim, melainkan di tempat yang berbeda, yaitu di saluran telur (tuba falopi), indung telur, leher rahim atau rongga perut. Bila embrio melekat di saluran telur, maka pertumbuhan embrio akan menyebabkan saluran telur membengkak atau pecah.

Berdasarkan survey selama ini diketahui bahwa tingkat ektopik pada kaum perempuan mencapai 1 dibanding 100 kehamilan. Peluang terjadinya ektopik lebih tinggi jika saluran telur rusak karena radang perut (misalnya usus buntu atau infeksi klamidia) atau karena operasi rongga perut. IUD (spiral) juga meningkatkan risiko kehamilan ektopik.

Lantas, apa gejala kehamilan seperti ini? Biasanya gejala ektopik baru bisa dirasakan sekitar enam hingga sepuluh pekan setelah usia kehamilan. Gejalanya antara lain berupa sakit di salah satu sisi panggul, perdarahan vagina di luar menstruasi, nyeri di perut bagian bawah, pingsan, dan mual.

Dari penjelasan ibu tadi, nampaknya gejala ini sangat mirip dengan yang Anda rasakan.

Pada tahap lanjut, kehamilan ektopik dapat menimbulkan gejala berikut antara lain nyeri perut yang intens, hipotensi, denyut nadi cepat, dan kulit pucat.

Tetapi jangan khawatir, ektopik tidak membuat Ibu kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kehamilan normal. Kalau mengacu pada hasil survey, sekitar 60% wanita menjadi subur kembali setelah mengalami ektopik, 30% lainnya tidak ingin hamil karena pengalaman itu dan 10% menjadi infertil (tidak subur).

Sedangkan bila mengacu pada pengalaman kami selama melakukan pengobatan ektopik di klinik kami, rata-rata pasien kami bisa kembali hamil dan melahirkan secara normal.

Yang perlu Anda lakukan ketika berobat adalah bawa rekam medis yang selama ini sudah Anda jalani, termasuk hasil uji lab/USG/HSG terakhir. Hal ini sangat penting untuk mengetahui kondisi terkini dalam kandungan ibu, sehingga pengobatan herbal yang dilakukan juga bisa tepat dan efektif, sehingga ibu bisa segera menimang momongan. Karena komposisi ramuan sangat menentukan efektivitas penyembuhan, termasuk dalam menciptakan kesuburan.

Terimakasih.


++++

Artikel terkait...