Jangan lupa saksikan inspirasi pagi bersama Jeng Ana setiap hari sabtu dan minggu pukul 08.00 s/d 09.00 WIB di Jak tv.

SOLUSI KESEHATAN KELUARGA INDONESIA


Prolapsus Uteri

Banyak pengirim email yang menanyakan perihal Prolapsus Uteri atau dalam bahasa awamnya kerap disebut turunnya rahim atau peranakan. Jadi, yang tertjadi adalah posisi rahim turun dari posisi yang semestinya.

Rahim normalnya terletak di dalam pelvis dengan berbagai otot, jaringan dan ligamen yang mendukungnya. Tapi kadang karena proses persalinan atau melahirkan yang sulit bisa membuat otot-otot ini melemah. Atau seiring dengan menurunnya hormon estrogen secara alami, maka rahim bisa turun ke dalam saluran vagina yang dikenal dengan istilah rahim turun.

Perlu diketahui bahwa rahim merupakan organ yang sangat mudah bergerak dalam rongga panggul wanita. Rahim melekat di tempatnya dengan disangga oleh banyak ligamen yang tersusun dari jaringan-jaringan berserabut dan sejumlah kecil serat otot.

Ketika wanita hamil dan melahirkan, berbagai penyangga tersebut mendapat banyak tekanan. Karena itu, hamil dan melahirkan merupakan salah satu sebab terjadinya prolapsus uteri. Bahkan melahirkan secara sesar pun tidak otomatis mencegah terjadinya penurunan rahim.

Menurut penelitian medis, ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya prolapsus uteri, antara lain:

  • Beberapa kali melakukan persalinan normal melalui vagina.
  • Kelemahan pada otot panggul setelah berusia lanjut.
  • Melemahnya atau hilangnya kekuatan jaringan setelah menopause dan menurunnya kadar estrogen alami.
  • Kondisi yang menyebabkan peningkatan tekanan dalam perut seperti batuk kronis, terlalu mengejan akibat sembelit, tumor panggul atau adanya akumulasi cairan di perut.
  • Kelebihan berat badan atau obesitas dan adanya beban tambahan terhadap otot panggul.
  • Operasi secara radikal di daerah panggul yang menyebabkan hilangnya dukungan eskternal.
  • Sering mengangkat beban yang berat.

Mengenai klasifikasi prolapus uteri terdapat perbedaan pendapat antara ahli ginekologi. Friedman dan Little (1961) mengemukakan beberapa macam klasifikasi yang dikenal yaitu:

  1. Prolapsus uteri tingkat I, dimana servik uteri turun sampai introitus vaginae; proplasus uteri tingkat II, dimana serviks menonjol keluar dari introitus vaginae; prolapsus uteri tingkat III, seluruh uterus keluar dari vagina, prolapsus ini juga dinamakan prosidensia uteri.
  2. Prolapsus uteri tingakat I, serviks masih berada didalam vagina; prolapsus uteri tingkat III, serviks keluar dari introitus, sedang pada prosidensia uteri, uterus seluruhnya keluar dari vagina.
  3. Prolapsus uteri tingkat I, serviks mencapai introitus vaginae; prolapsus uteri tingkat II, uterus keluar dari introitus kurang dari ½ bagian ; prlapsus uteri tingkat III, uterus keluar dari introitus lebih besar dari ½ bagian.
  4. Prolapsus uteri  tingkat I, serviks mendekati prosessus spinosus; prolapsus uteri tingkat II, serviks terdapat antara prosessus spinosus dan introitus vaginae; prolapsus uteri tingkat III; serviks keluar dari introitus.
  5. Klasifikasi ini sama dengan klasifikasi D, ditambah dengan prolapsus uteri tingkat IV (prosidensia uteri)

Gejala Prolapsus Uteri

Ada sejumlah gejala yang bisa dikenali dari penderita rahim turun. Umumnya, gejala ini berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. Terkadang  penderita malah tidak mempunyai keluhan apapun.

prolapsus-710x150

Keluhan yang lazimnya dirasakan penderita adalah:

– Benjolan atau tonjolan di kemaluan.

– Keluar air kencing bersamaan dengan batuk, bersin, melompat (inkontinensia tekanan uriner atau stress urinary incontinence/SUI). Hubungan antara prolaps uteri-vagina dan SUI biasa terjadi karena kandung kemih dan rahim letaknya secara anatomi sangat berdekatan. Sehingga turunnya rahim biasanya juga menyebabkan kandung kemih ikut turun.

– Tidak bisa buang air kecil dengan tuntas dan pada beberapa kasus, tidak bisa sepenuhnya menahan kecing. Kondisi ini sangat kontras dengan SUI, dan terjadi pada prolaps dengan derajat yang sangat parah ketika saluran kemih terpelintir. Penting sekali untuk mengenali hubungan tersebut, karena merawat prolaps dengan operasi akan meringankan masalah aliran kemih, selain juga bisa menyingkap SUI penyebabnya.

– Sering buang air kecil. Kondisi ini disebabkan oleh buang air kecil yang tidak tuntas. Sisa urine meningkatkan risiko infeksi.

– Rasa sakit di panggul dan pinggang (backache). Biasanya jika penderita berbaring, keluhan menghilang atau menjadi kurang .

– Sistokel dapat menyebabkan gejala-gejala:

  • Miksi sering dan sedikit-sedikit. Mula-mula pada siang hari, kemudian bila lebih berat juga pada malam hari;
  • Perasaan seperti kandung kencing tidak dapat dikosongkan seluruhnya;
  • Stress incontinence, yaitu tidak dapat menahan kencing jika batuk mengejan. Kadang- kadang dapat terjadi retensio uriena pada sistokel yang besar sekali.

– Rektokel dapat menjadi gangguan pada defekasi:

  • Obstipasi karena faeses berkumpul dalam rongga rektokel;
  • Baru dapat defeksi, setelah diadakan tekanan pada rektokel dari vagina.

– Prolapsus uteri dapat menyebabkan gejala sebagai berikut:

  • Pengeluaran serviks uteri dari vulva mengganggu penderita waktu berjalan dan bekerja. Gesekan porio uteri oleh celana menimbulkan lecet sampai luka dan dekubitus pada porsio uteri
  • Leukorea karena kongesti  pembuluh darah di daerah serviks, dan karena infeksi serta luka pada porsio uteri

– Enterokel dapat menyebabkan perasaan berat di rongga panggul dan rasapenuh di vagina.

Pengobatan Secara Herbal

Untuk menangani rahim turun ini tergantung dari kelemahan struktur pendukung di sekitar rahim. Jika masih ringan atau bisa tangani di rumah, dokter biasanya menyarankan agar si ibu memperkuat otot-otot panggulnya melalui senam kegel.

Jika tidak bisa ditangani dengan senam kegel, dokter lazimnya menempuh tindakan medis, seperti memasukkan cincin ke dalam vagina untuk membantu memulihkan kekuatan dan vitalitas jaringan di vagina. Penanganan ini dilakukan jika si perempuan masih ingin hamil lagi atau terdapat kontraindikasi jika dilakukan operasi.

Sedangkan pilihan terakhir, biasanya dokter melakukan operasi untuk memperbaiki rahim atau mengangkatnya. Dalam kasus yang parah, dokter akan mengangkat rahim (histerektomi). Selama operasi dokter bedah juga akan memperbaiki penyangga dinding vagina, uretra, kandung kemih dan rektum.

Lantas mungkinkah penyakit ini disembuhkan dengan obat-obatan herbal? Jawabnya sangat mungkin. Sangat banyak jenis tanaman obat yang memang disediakan oleh Tuhan untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit.

Misalnya otot-otot penyangga rahim yang lemah bisa diperkuat dengan penggunaan tanaman-tanaman herbal yang memperkuat otot tersebut. Begitu juga hormon-hormon yang mendukung perbaikan organ-organ di seputar rahim juga bisa diperbaiki melalui ramuan herbal.

Sebagai contoh yang kerap dilakukan masyarakat awam adalah penggunaan bunga mawar . Sedangkan di Klinik Herbal Jeng Ana memiliki ramuan khusus untuk jenis penyakit ini yang mengkombinasikan berbagai jenis tanaman herbal dengan komposisi yang tepat.

 


++++

Artikel terkait...