cuci-darah1

Komplikasi gagal ginjal, hipertensi, diabetes, dan sejumlah penyakit lainnya tentu merupakan momok bagi setiap orang. Inilah yang menimpa Bu Zainab (74) beberapa waktu lalu. Wajar bila putra-putri Bu Zainab sempat syok mendengar penjelasan dokter soal penyakit ibu mereka.

“Dokter menyarankan agar ibu melakukan cuci darah. Kami merembukkan saran doter tersebut dengan kakak-kakak semua. Mereka semua sepakat agar ibu menjalani cuci darah,” ujar Rachman, anak bungsu Bu Zainab saat mendampingi ibunya memberi kesaksian pada acara Medika Natura bersama Jeng Ana di Jak TV, beberapa waktu lalu.

Sebenarnya, kata Rachman, dirinya sendiri kurang sepakat kalau ibunya dicuci darah. Alasannya, selain biayanya mahal juga tidak ada jaminan kesembuhan, tetapi malah ketergantungan. Apalagi, lanjutnya, banyak orang yang akhirnya justru meninggal setelah sekian lama cuci darah.

Selama melakukan pengobatan medis, waktu itu dalam sebulan Ibu Zainab bisa tiga sampai tiga kali berobat ke dokter. Sebagai anak terakhir, Rachman merasa tak tega melihat ibunya seperti itu. Itulah sebabnya seraya menjalani cuci darah, Rachman terus mencari-cari pengobatan alternatif. “Tak sengaja kami melihat Jeng Ana di televisi, akhirnya kami putuskan untuk berkonsultasi dengan Jeng Ana,” sambung Bu Zainab.

Diantar beberapa anaknya, termasuk Rachman, Bu Zainab datang ke Klinik Herbal Jeng Ana sekitar Maret 2014 lalu. Mereka bertemu langsung dengan Jeng Ana dengan membawa hasil rekam medis. “Kondisi ibu saat itu sangat lemah. Setelah kami pelajari rekam medisnya, kami sampaikan bahwa insyaAllah penyakit Bu Zainab bisa diobati dengan herbal dan tidak perlu lagi melakukan cuci darah dan obat-obatan kimia lainnya,” ujar Jeng Ana.

Namun, waktu itu Rachman dan saudara-saudaranya belum yakin dengan penjelasan Jeng Ana. Meraka seolah tidak percaya kalau obat herbal yang berasal dari alam itu bisa menggantikan obat kimia dan cuci darah. “Seperti kepada pasien-pasien lainnya, maka kami persilakan untuk dipikirkan dulu masak-masak di rumah sebelum memutuskan berobat kepada kami. Beberapa hari kemudian, Mas Rachman datang lagi untuk mengambil obat dari kami,” kata Jeng Ana.

Kata Jeng Ana, Bu Zainab mengalami komplikasi sejumlah penyakit, diantaranya gagal ginjal, disertai hipertensi, limpa membengkak, asam urat, gula darahnya sangat tinggi, dan kalium juga tinggi. Untuk mengatasi penyakit tersebut, kata Rachman, selain cuci darah, ibunya juga menggunakan obat-obatan dari dokter. “Jadi ibu seperti ketergantungan obat. Lupa sebentar saja untuk minum obat, penyakitnya kambuh. Saya kan jadi khawatir. Ini yang membuat kami akhirnya memutuskan untuk berobat secara herbal,” sambung Rachman.

Rachman mengakui bahwa sebelumnya dia sempat meragukan kalau ibunya bisa sembuh dengan herbal Jeng Ana. “Ibu saya saat itu kan harus cuci darah selain mengkonsumsi obat-obatan dokter. Rasanya nggak masuk akal kalau herbal bisa menyembuhkan. Tetapi demi kesembuhan ibu, saya berusaha yakin seperti saran Jeng Ana, dan kam putuskan untuk mencobanya,” terang Rachman.

Selama menjalani pengobatan di Jeng Ana, Bu Zainab diminta untuk rutin melakukan uji lab dua minggu sekali. “Mengapa setiap dua minggu karena untuk memantau jangan sampai risiko tinggi. Karena penyakit yang diderita Bu Zainab kan komplikasi,” terang Jeng Ana.

Alhamdulillah setelah sekitar seminggu mengkonsumsi ramuan yang diberikan oleh Jeng Ana, Bu Zainab merasakan ada perkembangan. Menurut hasil uji lab dua minggu setelah minum obat Jeng Ana, hasilnya juga memperlihatkan perkembangan positip. “Kami jadi semakin mantap untuk melanjutkan pengobatan di Jeng Ana. Cuci darah juga kami hentikan. Begitu juga dengan obat-obatan kimia ari dokter langsung kami hentikan, termasuk suntikan insulin sudah tidak kami berikan ke ibu,” ujar Rachman.

Perlu diketahui bahwa pengobatan di Jeng Ana menerapkan sistem paket. Satu paket obat dipergunakan untuk dua bulan. Sedangkan Bu Zainab mengaku sudah merasakan perkembangan yang jauh lebih baik setelah mengkonsumsi satu paket. “Alhamdulilah baru satu paket saja saya sudah bisa merasakan badan lebih enak, makan juga sudah enak. Bahkan terkadang lupa pantangan yang tidak boleh dimakan. Padahal sebelumnya, saya sangat sulit makan, seperti tidak bisa menelan gitu. Tidur juga semula susah, tapi sekarang sudah bisa tidur nyenyak. Saya sangat bersyukur,” ujar Bu Zainab.

Ketika berita ini diturunkan Bu Zainab masih terus melanjutkan pengobatan herbal di Jeng Ana, yakni menjalani paket kedua. “Melihat perkembangan kesehatan ibu seolah tidak percaya, bagaimana mungkin ramuan herbal bisa mengalahkan obat-obatan dokter. Tapi ini kenyataan yang terjadi pada ibu saya,” tegas Rachman.

Jeng Ana menambahkan bahwa obat-obatan yang disediakan oleh alam bisa menyembuhkan semua jenis penyakit. Karena Allah memberikan penyakit pasti juga menyediakan obatnya. “Hidup kita tidak bisa diatur dengan obat. Mungkin kalau menggunakan obat kimia, kita punya ketergantungan pada obat itu mungkin seumur hidup sehingga tanpa obat kemudian terjadi sesuatu. Sedangkan obat herbal kami tidak membuat ketergantungan, tetapi justru memperbaiki organ-organ yang mengalami kerusakan,” jelas Jeng Ana.

Meski demikian, Jeng Ana menolak ketika pasien menanyakan target berapa lama pasien bisa sembuh. Pasalnya, dirinya sebagai manusia biasa hanya bisa berusaha dan berdoa dengan penuh keyakinan. “Kalau Allah menghendaki sembuh, maka dengan hanya meminum air putih saja juga bisa sembuh. Ikuti saja jalannya obat. Obat itu kan mengikuti naluri kita,” pungkasnya. (*)


++++

Artikel terkait...