Jangan lupa saksikan inspirasi pagi bersama Jeng Ana setiap hari sabtu dan minggu pukul 08.00 s/d 09.00 WIB di Jak tv.

SOLUSI KESEHATAN KELUARGA INDONESIA


KANKER-SERVIKS

Kanker serviks menyerang pada bagian organ reproduksi kaum wanita, tepatnya di daerah leher rahim atau pintu masuk ke daerah rahim yaitu bagian yang sempit di bagian bawah antara kemaluan wanita dan rahim. Karena itu penyakit yang paling ditakuti oleh kaum wanita ini disebut juga sebagai kanker mulut rahim.

Berdasarkan data yang ada, dari sekian banyak penderita kanker di Indonesia, penderita kanker serviks mencapai sepertiganya. Dan dari data WHO tercatat, setiap tahun ribuan wanita meninggal karena penyakit kanker serviks ini dan merupakan jenis kanker yang menempati peringkat teratas sebagai penyebab kematian wanita di seluruh dunia.

Sehebat apapun suatu penyakit, termasuk kanker serviks, pasti ada obatnya. Sugesti inilah yang selalu ditumbuhkan oleh Jeng Ana kepada setiap pasiennya. Sebagai seorang penyembuh, Jeng Ana memang memegang suatu keyakinan bahwa ketika Allah SWT Yang Maha Pengasih dan Penyayang memberikan penyakit kepada manusia, bukan berarti kasih sayangNya kepada manusia berkurang.

Hal ini dibuktikan dengan adanya obat sebagai penangkal penyakit yang diberikan Allah SWT. Hanya saja, memang belum semua penyakit itu sudah diketahui obatnya oleh manusia. Hal ini dimaksudkan untuk mendorong manusia, khususnya mereka yang bergerak dalam ilmu pengetahuan untuk terus mengadakan penelitian guna menemukan obatnya.

“Khusus untuk penyakit kanker, termasuk kanker serviks, Alhamdulillah saya telah menemukan racikan untuk menyembuhkannya. Secara empirik saya sudah membuktikannya kepada ratusan, bahkan ribuan pasien yang saya tangani,” ungkap Jeng Ana penuh semangat.

Apa yang dikatakan Jeng Ana memang bukan isapan jempol semata. Salah seorang mantan pasiennya memberikan testimoni yang sangat mengharukan kepada media ini. Sang pasien, Lidya Puspita (33), adalah pasien yang mengidap kanker serviks stadium IV. Berikut ini ringkasan kesaksian Ibu rumah tangga dengan 2 anak tersebut.

“Awalnya saya mengalami kelainan kandungan atau sebutan lainnya adalah hamil di luar kandungan atau hamil anggur. Perut saya membesar tapi tidak ada janin dalam kandungan melainkan gelembung-gelembung yang mirip buah anggur.”
Demikian Lidya Puspita mengawali kisahnya. Setelah mengetahui kondisinya yang hamil di luar kandungan, maka sesuai saran dokter upaya yang ditempuh adalah dilakukannya proses kuretase supaya kandungan bersih. Langkah ini sekaligus dilakukan sebagai upaya untuk menghindari kemungkinan terburuk.

Setelah proses tersebut selesai, 1 bulan kemudian Lidya melakukan kontrol ke dokter kandungan untuk melihat perkembangan kesehatan kandungannya. Tes lab pun dilakukan untuk melihat keakuratan hasil pemeriksaan dokter. Namun apa yang terjadi?

“Saya terkejut sekali setelah melihat hasil lab tersebut dan ternyata Kadar Beta HCG yang membawa virus mola tidak turun justru naik 1500 lebih. Satu bulan kemudian setelah tes lab yang pertama Kadar Beta HCG Saya naik lagi menjadi 3075. Saya syok dengan hasil tersebut, karena semakin tinggi kadar Beta HCG-nya justru akan memicu reaksi sel-sel kanker untuk berkembang di daerah Rahim,” papar Lidya Puspita dengan detil.

Dikisahkan, setelah mengetahui hasil lab tersebut, dia mengajak suaminya berunding untuk mencari solusi. Dari hasil rundingan ini diputuskan untuk melakukan tes lab di Bandung, tepatnya di RS. Hasan Sadikin, karena memang di Tasikmalaya, tempat Lidya dan keluarganya berdomisili belum ada rumah sakit yang fasiltas peralatannya selengkap rumah sakit terbesar di ibu kota Propinsi Jawa Barat ini.

“Setelah dilakukan tes lab di Hasan Sadikin, justru saya semakin syok, karena hasil lab sudah menunjukkan bahwa saya positif menderita kanker bahwa direkomendasikan dokter segera dilakukan Kemoterapi atau diangkat rahimnya. Sayapun terus menangis dengan kondisi seperti ini. Apalagi biaya kemoterapi ditaksir 80 juta. Uang dari mana sebanyak itu?” kenang wanita yang juga berprofesi guru honorer di sebuah sekolah lanjutan tingkat pertama itu.

Di tengah keputusasaan, dia dan suami memutuskan untuk rehat sejenak dan mencari solusi. “Saya coba konsultasi dengan keluarga dan akhirnya diputuskan untuk ikhtiar dengan mengkonsumsi herbal. Jeng Ana-lah yang kemudian menjadi pilihan saya,” tambah Lidya lagi.

Setelah menelepon dan membuat perjanjian, Lidya kembali ke Bandung. Kali ini bukan rumah sakit yang menjadi tujuannya, melainkan ke klinik Jeng Ana. Saya berikan beberapa hasil lab yang sudah saya lakukan kepada Jeng Ana. Dengan senyum dan sikapnya yang ramah Jeng Ana meyakinkan saya bahwa penyakit yang saya idap insya Allah akan bisa sembuh dengan ridho Allah dan dengan telaten serta kesabaran.

“Waktu itu saya membeli satu paket ramuan dan harus habis dalam tempo satu bulan,” kenang Lidya lebih lanjut.
Satu bulan kemudian, sesuai dengan saran Jeng Ana, waktunya kontrol bagi Lidya untuk cek ke lab. Dia pun surpraise karena kadar Beta HCG-nya turun dari angka 3.075 menjadi 106,6,

“Alhamdulillah. Kemudian saya kembali ke menjumpai Jeng Ana. Saya konsultasi hasil lab. Jeng Ana tersenyum dan mengatakan bahwa penyembuhan sudah menunjukkan hasil yang positi dan menyarankan untuk melanjutkan mengkonsumsi ramuan,” tambah Lidya.

Singkat cerita, setelah mengkonsumsi tiga paket ramuan berturut-turut, ia dinyatakan sembuh, dan kesembuhan ini telah dibuktikan dengan hasil lab. “Atas semua kejadian ini saya sangat bersyukur kepada Allah, sampai detik ini masih diberikan umur yang panjang,” tegasnya seraya menarik nafas lega.


++++

Artikel terkait...