Jangan lupa saksikan inspirasi pagi bersama Jeng Ana setiap hari sabtu dan minggu pukul 08.00 s/d 09.00 WIB di Jak tv.

SOLUSI KESEHATAN KELUARGA INDONESIA


jeng-ana

Hidup adalah misteri. Tak seorang pun dapat memahami jalan hidupnya. Tak juga seorang Ina Soviana, herbalis yang lebih dikenal dengan nama Jeng Ana. Dalam program Curahan Hati Perempuan yang ditayangkan Trans TV Rabu (27/05) herbalis berjuluk Ratu Herbal Indonesia blak-blakan menyebut dirinya tidak pernah bercita-cita menjadi seorang pengobat.

“Bagi saya apa yang saya peroleh sekarang semata-mata adalah karena jalan hidup. Suka atau tidak suka saya harus mensyukurinya,” kata Jeng Ana.

Meski demikian, ia mengaku kalau dirinya sejak kecil memang sudah dibiasakan orang tua dan kakek-neneknya untuk selalu peduli dengan lingkungan sekitar. Apalagi kakeknya adalah seorang penyembuh alternatif yang sehari-harinya membantu warga yang menderita sakit. Saat itu, hampir setiap hari Jeng Ana kecil turut sibuk membantu Mbah Kadam Sastro Ningrat, kakeknya, membuat ramuan-ramuan obat tradisional untuk keperluan pasien penderita berbagai jenis penyakit. Dari sinilah perempuan kelahiran 15 Juli 1977 ini banyak belajar mengenal ramuan herbal secara otodidak.

“Saya yakin takdir Illahi memang sudah menentukan bahwa saya pada saatnya harus menjadi pengobat. Inilah jalan hidup yang harus saya tempuh,” katanya lagi sembari tersenyum menyunggingkan lesung pipit.

Ketika berusia 8 tahun, Jeng Ana sempat mati suri. Anehnya, di saat mati suri inilah dalam dimensi kehidupan lain (gaib) ia belajar berbagai ilmu meracik ramuan. Pengalaman ini begitu nyata menempanya menjadi seorang pengobat atau herbalis.

“Saya pernah dinyatakan mati, bahkan hampir dikafani. Kain kafan itu sampai sekaranmg bahkan masih saya simpan,” kisah Jeng Ana seraya menyebutkan bahwa dalam keadaan yang disangka mati itulah dirinya belajar ilmu pengobatan di alam gaib.

Ketika sang kakek meninggal, Ina Soviana pun bertekad untuk melanjutkan keahlian orang yang dicintainya itu. Kebetulan sang kakek mewarisinya tanah seluas 1,5 hektare yang sudah ditanami berbagai macam tanaman obat. Waktu itu usia Jeng Ana sudah sekitar 20 tahun. Karena sang kakek sudah tidak ada, maka perempuan muda ini mulai memberanikan diri untuk terjun menggantikan sang kakek melakukan pengobatan ketika ada warga yang sakit dan datang berobat padanya.

“Selalu ada yang datang meminta bantuan, dan Alhamdulillah sembuh,” tutur Jeng Ana.

Kondisi ini semakin meyakinkan Jeng Ana untuk melanjutkan dan melestarikan warisan leluhur. Niatnya semakin kuat ketika melihat kondisi kehidupan masyarakat yang semakin sulit lantaran krisis moneter yang terjadi kala itu. Banyak masyarakat yang tidak bisa berbuat apa-apa dengan penyakit yang dideritanya karena tidak mampu membayar biaya rumah sakit yang mahal.

“Atas desakan beberapa teman dan keluarga, saya akhirnya memutuskan untuk buka klinik,” jelasnya.

Untuk memperdalam pengetahuannya, Jeng Ana lantas hijrah ke Jakarta. Di ibukota, ia banyak belajar, baik melalui pendidikan formal maupun informal. Pelahan, namun pasti, keputusannya untuk membangun klinik herbal akhirnya bisa terwujud. Nama Jeng Ana kini menjadi ikon yang sangat mumpuni dalam dunia pengobatan herbal. (*)

 


++++

Artikel terkait...