Meski selama beberapa waktu belakangan ini wajahnya semakin jarang muncul di layar televisi, namun Jeng Ana masih tetap eksis bersama wahana pelayanan kesehatan Herbal Jeng Ana yang didirikannya lebih dari 15 tahun silam. Memang, banyak pihak yang menganggap Jeng Ana sudah undur diri dari kancah penyembuhan tradisional, menyusul isyu negatif yang menerpanya. Salah satu isyu tersebut misalnya tudingan terhadap dirinya yang gegabah menggunakan istilah-istilah medis yang bukan menjadi ranah keahliannya.

“Banyak yang menganggap Herbal Jeng Ana sudah tutup. Padahal, kami masih tetap eksis melayani pasien. Bedanya, sekarang kami tidak bisa beriklan di televisi,” kata herbalis berwajah kemayu itu.

Terkait dengan iklan pengobatan alternatif, pemerintah lewat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memang tengah gencar-gencarnya menegakkan pelarangan. Hal ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) No.61/Tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional, dimana Pasal 67 ayat dua (2) menyebut: “Penyehat Tradional dan Panti Sehat dilarang mempublikasikan dan mengiklankan Pelayanan Kesehatan Tradisional Empiris yang diberikan.”

Penerapan aturan ini oleh pengobat alternatif dirasakan sangat menghambat, karena tanpa adanya iklan baik di media cetak maupun elektronik sulit bagi mereka menyampaikan informasi tentang layanan pengobatan tradisional. Jeng Ana tidak menampik dampak yang dirasakannya. Kendatipun demikian, dirinya tetap yakin tidak akan kehilangan pasien.

“Dengan pelayanan prima yang saya berikan kepada pasien, maka saya sangat yakin dan percaya dengan iklan gethok tular atau informasi dari mulut ke mulut. Pasien yang berhasil sembuh pasti akan memberikan informasi kepada famili atau tetangga di sekitarnya. Kenyataan inilah yang salah satunya menjadi sebab Herbal Jeng Ana masih tetap bisa bertahan hingga saat ini,” tegas Jeng Ana.

Para pengobat tradisional berharap penegakkan aturan larangan beriklan bagi profesi mereka bisa diberikan kelonggaran. Pengobatan alternatif adalah asset budaya bangsa yang harus diberi kesempatan untuk hidup dan berkembang. Dengan adanya aturan pelarangan beriklan, dapat dipastikan akan banyak tempat pengobatan alternatif yang mati sebelum berkembang.

“Adanya aturan larangan beriklan itu maksudnya baik, yaitu ingin melindungi konsumen. Tetapi menurut saya yang mestinya diatur itu adalah di sektor hulunya, yaitu terkait perizinan yang harusnya lebih diperketat lagi. Dengan demikian tidak akan ada pengobat alternatif abal-abal yang dapat merugikan masyarakat,” tegas Jeng Ana menutup perbincangan. (*)


++++

Artikel terkait...