Jangan lupa saksikan inspirasi pagi bersama Jeng Ana setiap hari sabtu dan minggu pukul 08.00 s/d 09.00 WIB di Jak tv.

SOLUSI KESEHATAN KELUARGA INDONESIA


dyspepsia-710x150

Assalamualaikum Jeng Ana.

Saya dari Sarawak, Malaysia. Saya ada keluhan. Perut sentiasa kembung angin dan kepala pusing. Saya dibawa ke klinik, doktor bilang dyspepsia. Doktor sarankan ubat oprimazol. Tapi saya alergi, kemudian saya ke hospital jumpa doktor pakar, kerana angin dan pusing kepala belum hilang sepenuhnya.

Doktor bilang ‘gas trapped’ dan sarankan pula makan pil ranitidine. Ubatnya sesuai, tapi bila efek ubatnya habis, terus perut saya kembung angin dan kepala pusing. Saya jadi risau. Saya juga telah menghantar emel ke Jeng Ana melalui ruangan ‘kontak’, tapi belum di balas. Mohon pandangan Jeng Ana untuk keluhan saya ini. Terima kasih.

Ellia Jelani
elyajelani@yahoo.com

 JAWAB:

Wa’alaikum salam Ibu Ella dari Sarawak.

Kami tidak terkejut dengan cerita tentang apa yang Anda sampaikan perihal obat yang Anda peroleh dari resep dokter. Seperti yang berkali-kali kami sampaikan, bahwa obat-obatan kimia selalu memiliki efek samping. Selain itu, obat-obatan instan semacam itu juga tidak menyembuhkan sumber penyakit. Kebanyakan hanya bersifat meredakan rasa sakitnya saja atau maksimal menyembuhkan untuk sementara waktu.

Mengenai penyakit yang Anda alami, dyspepsia, sebenarnya adalah istilah medis dari jenis penyakit yang selama ini kita kenal sebagai sakit maag. Dyspepsia didefinisikan sebagai penyakit dengan gejala terutama berupa keluhan atau rasa tidak nyaman atau rasa nyeri di daerah ulu hati disertai rasa mual, kembung, kurang nafsu makan, dan cepat merasa kenyang serta dapat disertai dengan muntah.

Pada beberapa kasus rasa nyeri tersebut bisa sangat hebat, terasa panas hingga sakit di bagian perut sampai terasa menusuk tulang belakang. Gejala itu bisa akut, berulang, dan bisa juga menjadi kronis. Disebut kronis jika gejala itu berlangsung lebih dari satu bulan terus-menerus.

Dyspepsia merupakan salah satu jenis penyakit yang banyak terjadi di Indonesia. Sebuah survey yang dilakukan Universitas Indonesia beberapa tahun lalu memperlihatkan angka sekitar 50 persen responden yang diteliti ternyata mengidap dyspepsia.

Dalam dunia medis dikenal ada dua jenis Dyspepsia:

–         Dyspepsia Organik

–         Dyspepsia Non-Organik (Dyspepsia Fungsional).

Perbedaan yang mendasar pada kedua jenis Dyspepsia tersebut adalah adanya kerusakan pada jaringan saluran pencernaan. Jika dilakukan pemeriksaan endoskopi (diteropong) pada pasien dengan Dyspepsia Fungsional tidak akan ditemukan kelainan atau hanya minimal saja. Sedangkan pada Dyspepsia Organik gejala yang muncul lebih parah, dan bila diperiksa dengan endoskopi akan di temukan kelainan anatomis, misalnya tukak lambung, polip pada kerongkongan, ataupun kanker pada lambung.

Dyspepsia Fungsional ini berhubungan erat dengan faktor psikis. Berbagai penelitian bahkan telah membuktikan hubungan antara faktor fungsional dan faktor stres yang dialami seseorang terutama faktor kecemasan (ansietas).

Selain itu terdapat beberapa kebiasaan yang menyebabkan dyspepsia antara lain:

–         Kebiasaan  merokok

–         Konsumsi kafein (kopi)

–         Alkohol atau minuman yang sudah dikarbonasi.

–         Mereka yang sensitif atau alergi terhadap bahan makanan tertentu

–         Sensitif atau alergi dengan jenis obat-obatan tertentu, seperti Obat Anti-Inflamasi Non Steroid (OAINS), Antibiotik makrolides, metronidazol, dan kortikosteroid. Obat-obatan itu sering dihubungkan dengan keadaan Dyspepsia.

Lantas apa yang menyebabkan penyakit ini? Ternyata para dokter sendiri mengaku tidak mudah untuk mengetahuinya. Karena itu dalam dunia kedokteran juga menganggap relatif sulit untuk mengobati Dyspepsia sebelum mengetahui penyebabnya secara pasti.

Dokter harus dengan saksama membedakan antara Dyspepsia yang mempunyai ulkus dan yang tidak, antara Dyspepsia Fungsional dan Dyspepsia Organik, salah satunya dengan menggunakan endoskopi.

Pemeriksaan Endoskopi biasanya dilakukan dokter bila pasien tetap mengalami nyeri pada lambung meskipun telah minum obat Dyspepsia selama delapan minggu atau nyeri berkurang atau hilang sesaat untuk kemudian muncul kembali.

Pemeriksaan endoskopi adalah suatu pemeriksaan untuk melihat keadaan lambung pasien. Caranya, dengan memasukkan suatu slang berkamera ke mulut terus hingga ke lambung. Dengan demikian, dokter bisa melihat bagian dalam lambung untuk mencari tahu apa penyebab nyeri yang pasien derita.

Pengobatan awal terhadap penyakit ini biasanya dokter memberi obat penetral atau penghambat produksi asam lambung yang berlebihan. Bisa juga diberikan obat yang memperbaiki motilitas lambung. Jika mempunyai ulkus biasanya dokter juga memberi pasien antasid atau sejenisnya. Jika mengalami infeksi (terutama oleh H Pylori), dokter umumnya menambahkan antibiotika. Jika dokter berpikir bahwa ada obat yang sedang pasien konsumsi menyebabkan dyspepsia, maka pasien akan diberi obat lain.

Lantas bagaimana dengan pengobatan herbal, apakah mungkin? Sangat mungkin. Dalam resep tradisional para nenek moyang kita dikenal berbagai resep untuk jenis penyakit ini. Misalnya perpaduan 30 g empu kunyit segar dan 25 g kunci pepet segar yang diblender dan direbus dengan air secukupnya. Ada lagi resep perpaduan 30 g temulawak, 30 butir cengkih, 30 g kencur, yang juga diblender dan kemudian perasannya direbus dengan air secukupnya.

Selain itu masih banyak lagi jenis ramuan herbal lain yang bisa untuk mengobati jenis penyakit ini, misalnya campuran adas, kapulaga dan jahe; buah nanas dan pepaya, dan sebagainya.

Bagaimana dengan pengobatan di Klinik herbal Jeng Ana, kami tentu saja juga menggunakan produk herbal semacam itu. Namun, kami memiliki ramuan khusus yang benar-benar disesuaikan dengan kondisi pasien berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium. Dalam kasus yang sudah parah, kami juga mengharuskan pasien untuk melakukan endoskopi.

Jadi, buat Ibu yang ada di Sarawak Malaysia, agar Anda tidak mengalami kondisi yang seperti Anda alami saat ini, kami sarankan untuk menggunakan obat-obatan herbal yang sudah pasti tidak memiliki efek samping.

Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah menjaga gaya hidup dan pola makan. Hindari, dan bahkan usahakan untuk menghentikan kebiasaan merokok, minum kopi, alkohol, minuman yang sudah dikarbonasi dan makanan yang terlalu pedas. Biasakan hidup sehat, misalnya berolahraga yang rutin, makan makanan bergizi secara teratur, istirahat yang cukup, dan hindari stress.

Dan sebagai penutup, jangan pernah meremehkan rasa tidak nyaman di perut. Bila Anda biarkan berlarut-larut, dampaknya bisa sangat fatal.

 


++++

Artikel terkait...