Ovum

Assalamualaikum Wr. Wb.

Usia saya 39 th. Dari awal, menstruasi saya selalu panjang siklusnya. Jika wanita normal siklus menstruasinya 25-28 hari, saya bisa mencapai 38 hari bahkan 60 hari.

Pada tahun 2002 saya pernah konsultasi ke dokter kandungan dan melakukan tes hormon. Dokter menyatakan bahwa tidak ada ovum yang berkembang (anovulasi). Ovum hanya berkembang 1/2 ukuran normal lalu berhenti berkembang dan hanya menempel di dinding ovarium (FSH, LH, Estrogen yang amburadul).

Makanya menstruasi saya panjang siklusnya karena hanya darah yang luruh dari dinding rahim. Selama berobat, saya diberi terapi obat penyubur selama 6 bulan dan hasilnya tetap sama, tidak ada ovulasi.

Dokter tidak menyebutkan apa penyakit saya, tapi setelah saya baca artikel dari internet, kemungkinan besar masalah hormon saya adalah PCO (Polycistic Ovarium).
Setelah terapi 6 bulan berakhir, dokter menyatakan bahwa penyakit saya tidak bisa disembuhkan.

Pertanyaan saya :
1. Apakah di usia saya yang hampir 40 th masih ada harapan hamil?
2. Hasil lab saya sudah hilang, apakah saya masih bisa berobat ke Jeng Ana tanpa membawa hasil lab? (karena kalo tes lab ulang harus pakai pengantar dokter kandungan)

Mohon bantuannya. Atas jawabannya saya ucapkan banyak terima kasih.

Wassalamualaikum

Amalia
amalia_nawawi@yahoo.com

JAWAB:

Wa’alaikum salam

Sebelum menjawab pertanyaan Anda, kami sedikit jelaskan dulu apa yang dimaksud dengan anovulasi. Terjemahan mudahnya, anovulasi adalah kondisi dimana sel telur tidak keluar dari indung telur (ovarium). Jadi, sudah jelas kondisi seperti ini tidak memungkinkan terjadinya proses kehamilan.

Bagaimana cara mengenali kondisi infertilitas ini? Ada beberapa gejala yang umumnya terjadi pada penderita anovulasi, diantaranya:

– Tidak adanya menstruasi (amenore)
Kondisi dimana seseorang tidak pernah mengalami menstruasi lagi, namun bukan menopause

– Menstruasi yang jarang
Mentruasi tetap terjadi, tetapi frekuensinya jarang.

– Menstruasi yang tidak teratur
Dalam kondisi normal, seorang wanita biasanya mengalami menstruasi dengan interval 26-32. Bila diluar interval tersebut, maka perlu dicurigai adanya masalah dengan anovulasi.

Menstruasi yang berovulasi mempunyai sifat teratur, siklik atau siklus, dapat diperkirakan akan terjadinya, dan rasa tidak nyaman. Menstruasi terjadi secara tegas setelah 14 hari kejadian ovulasi. Sehingga bila kita ingin tahu kapan terjadinya ovulasi atau saat subur, secara praktis dapat dibalik, yaitu minus 14 hari sebelum tanggal perkiraan menstruasi yang akan datang.

– Peningkatan pertumbuhan rambut pada sejumlah bagian tubuh dan wajah, misalmya diatas bibir atau kumis, dagu, dada, bagian dalam paha atau lainnya. Ini terjadi lantaran kosentrasi hormon androgen yang meningkat sehingga terjadi hirsutisme.

Cara lain untuk mengetahui apakah terjadi ovulasi atau tidak adalah dengan mengukur suhu badan basal, yaitu mengukur suhu badan tiap hari saat bangun tidur pagi hari setelah istrirahat malam yang cukup, tiap hari selama 1 bulan, sejak awal menstruasi sampai menstruasi berikutnya.

Bila ditemukan grafik suhu yang bifasik atau naik turun disimpulkan terjadi ovulasi, sedangkan bila monofasik berarti anovulasi. Pola suhu badan demikian telah dikenal dan diketahui sejak 100 tahun yang lalu, dan telah terbukti pada 90 persen wanita ovulasi. Ini merupakan tekhnologi sederhana yang dapat dipercaya dan bisa diaplikasikan untuk mengetahui saat yang tepat hubungan seks guna menghasilkan kehamilan,

Lantas apa yang menyebabkan kondisi anovulasi tersebut? Banyak faktor yang bisa menjadi penyebabnya, diantaranya:

– Sindrom Ovarium Polikistik
Sesuai dengan namanya, yaitu terdapat banyak kista folikuler di bawah kapsul ovarium. Siklus menstruasinya tidak teratur, suhu badan basal monofasik, hirsutisme ringan sampai berat, dan ovarium membesar atau polikistik.

Kista-kista kecil dapat terjadi akibat terjadinya kegagalan ovulasi setelah folikel sempat membesar hampir maksimal. Hal tersebut berulang-ulang terus demikian, sampai banyak folikel menumpuk di bawah kortek.

– Gangguan hormonal lain
Cukup banyak jenis gangguan hormonal yang terjadi pada kaum hawa.

– Obesitas atau penurunan berat badan ekstrem.

Selain itu, berbagai gangguan pada organ reproduksi lain juga bisa menjadi penyebab anovulasi, misalnya penyumbatan dan penyempitan saluran tuba atau lainnya. Nah, untuk memastikan itu semua sangat diperlukan untuk melakukan tes USG dan HSG. Dari hasil tes tersebut baru bisa dilakukan langkah-langkah pengobatan yang tepat sesuai dengan jenis penyebabnya.

Nah, menjawab pertanyaan Anda, insyaAllah usia 40 tahun masih sangat memungkinkan terjadinya kehamilan. Bahkan usia diatas itu juga bisa. Yang biasanya dikhawatirkan terjadi adalah kondisi pasca kehamilan terjadi. Biasanya dokter mengatakan bahwa hamil di usia terlalu tua bisa membayakan. Namun sebenarnya bila dilakukan perawatan dengan baik, insyaAllah bisa teratasi dengan baik pula.

Sedangkan soal hasil uji lab, itu merupakan keharusan. Justru sebenarnya yang memerlukan adanya uji lab adalah ibu sendiri karena untuk mendapatkan kesembuhan yang pasti. Selain itu hasil uji lab juga harus yang terbaru, karena perubahan bisa terjadi pada organ kewanitaan kita setiap saat.

Sekian, terimakasih. Wassalamu’alaikum.


++++

Artikel terkait...