KANKER PAYUDARA STADIUM 4 SEMOBUH TOTAL

Ibu Asmanah saat memberikan kesaksian atas kesembuhannya dalam acara live di stasiun TV JakTv.

Ibu Asmanah (54) memang tak pernah bermimpi akan terserang penyakit ganas berupa kanker payudara. Pada awalnya ia hanya merasakan ada benjolan di payudara kanannya. Benjolan ini kian lama semakin membesar dan menimbulkan rasa sakit yang teramat sangat. Bahkan belakangan benjolan itu luka bernanah dan berbau busuk. Inilah awal dari penderitaan panjang yang dialaminya.

“Setelah diperiksa ke dokter, termasuk pemeriksaan biopsi tusuk jarum, dirontgen, dan USG ternyata sudah menyebar ke liver. Kata dokter, kanker payudara itu sudah stadium 4,” cerita Ibu Asmanah dengan air mata berderai karena haru.

Dengan modal menjual perhiasan, Ibu Asmanah mengikuti saran dokter untuk kemoterapi. Namun, setelah dilakukan kemoterapi 2 kali, tidak ada kesembuhan. Alih-alih sembuh, justeru penderitaan yang teramat sangat dialaminya setiap kali habis dilakukan kemoterapi.

“Saya jadi putus asa, tidak mau melanjutkan pengobatan lagi,” kenangnya.

Setelah menerima kenyataan pahit tersebut, keadaan penyakit Ibu Asmanah semakin parah. Payudara kanannya membengkak dengan luka semakin melebar dan membusuk. Sementara itu untuk kemoterapi sudah tidak mungkin lagi. Disamping biaya yang semakin menyusut, Ibu Asmanah juga sudah tak sanggup menahan efek dari kemoterapi. Tubuhnya berubah kurus kering, bagaikan mayat hidup. Rambutnya yang semula tebal berguguran akibat efek samping dari kemoterapi.

Meski keadaan semakin memburuk, di antara doa-doanya Ibu Asmanah masih tetap berharap bahwa kanker yang menimpa dirinya tersebut masih dapat disembuhkan. Ya, ia berharap kankernya dapat sembuh dan dirinya dapat sehat seperti semula. Suatu hal yang sangat manusiawi.

Menghadapi cobaan yang menimpa ibunya yang terkena kanker stadium 4, Baseri (19) selalu memberikan motivasi bahwa penyakit itu pasti bisa disembuhkan. Ia selalu meyakinkan sang ibu bahwa yang terpenting adalah tetap berikhtiar sambil senantiasa berdoa, karena takdir hanya Allah yang punya.

“Setelah Ibu menolak untuk berobat ke dokter, akhirnya saya memutuskan untuk mengajaknya berobat ke Jeng Ana. Ketika pertama kali bertemu Jeng Ana di kliniknya, beliau mengatakan bahwa akan diupayakan pengobatan penyakit Ibu saya sesuai dengan perkembangannya. Beliau juga berjanji akan memberikan kesembuhan, tentu dengan izin Allah semata,” cerita Baseri yang mendampingi ibunya.

Singkat cerita, Ibu Asmanah resmi menjadi pasien Jeng Ana. Ia diberi satu paket ramuan berupa simplisia murni dan kapsul juga salep untuk luka. Dengan telaten semua paket ramuan ini dipergunakan untuk pengobatan kanker. Hasilnya memang sungguh menakjubkan.

“Setelah mengikuti semua saran dan anjuran Jeng Ana, hasilnya membuat saya seperti bermimpi. Payudara saya yang semula bengkak mengecil dan ukurannya normal kembali. Lukanya juga perlahan-lahan sembuh dan tidak berbau lagi. Yang tak kalah menakjubkan, nafsu makan saya kembali pulih seperti sediakala sehingga tubuh saya yang kurus kering perlahan-lahan kembali berisi,” cerita Ibu Asmanah dengan penuh haru.

Baseri punya kisah yang tak kalah menakjubkan. Menurutnya, tiga hari setelah mengkonsumsi ramuan Jeng Ana, payudara ibunya seperti pecah. Dari dalam lobang seperti bisul keluar nanah bercampur darah yang telah menghitam dengan bau yang sangat busuk.

“Setelah malamnya bisul di payudara Ibu pecah, besok paginya keadaan ibu berubah. Ibu merasa lebih enak, dan yang terpenting payudaranya yang semula besar membengkak berubah normal ukurannya,” cerita Baseri.

Di akhir kisahnya, baik Ibu Asmanah maupun Baseri mengaku sangat bersyukur sebab Tuhan telah mempertemukan mereka dengan Jeng Ana. Tanpa adanya wasilah Allah melalui tangan Jeng Ana, mungkin hingga kini penyakit kanker payudara itu masih menyiksa Ibu Asmanah.

“Alhamdulillah sekarang saya sudah sehat seperti sediakala,” kata Ibu Asmanah. Ia juga menambahkan bahwa karena kekurangan biaya beberapa kali dirinya diberi keringanan menebus ramuan oleh Jeng Ana.

Belajar dari kesaksian Ibu Asmanah yang telah sembuh dari kanker payudara stadium 4 berkat racikan herbal, maka sudah tentu tidak semestinya jika banyak pihak masih meremehkan cara pengobatan ini.

Yang lebih penting lagi, terkena kanker payudara bukanlah akhir dari segalanya, meski penyakit tersebut memang momok bagi kaum wanita tetapi ada hal lain yang lebih layak untuk kita takuti yaitu hidup sesudah mati. Karena itulah kita harus tetap dekat dengan Allah di tengah kondisi seperti apapun.

Hanya dengan izin Allah Azza Wa Jala, sang pemilik kehidupan, siapa pun akan diberi kesembuhan dari penyakitnya. Karena itu tetaplah berharap kepada Sang Pemilik Kehidupan dengan tidak pernah bosa berdoa dan berikhtiar. Inilah keyakinan yang selalu disuntikkan oleh Jeng Ana pada diri pasien-pasiennya.


++++

Artikel terkait...