rulii-710x150

Siapa bilang pengobatan di Klinik Herbal Jeng Ana hanya manjur bila ditangani langsung oleh Jeng Ana saja. Buktinya, para pasien komplikasi kronis yang ditangani para asisten ternyata juga mendapatkan kesembuhan yang sama, seperti yang dialami oleh Ibu Ruli (50 tahun).

Mantan pekerja sebuah perusahaan farmasi ini memutuskan untuk menjalani pengobatan di Klinik Herbal Jeng Ana setelah dokter memvonisnya agar menjalani operasi lantaran komplikasi kista, miom dan ginjal yang dideritanya. Lihat videonya di tautan ini.

Kejadiannya sekitar tahun 2011 lalu. Waktu itu, tutur Ibu Ruli, dirinya mengeluh sakit perut, sehingga memeriksakan diri ke dokter. Sang dokter kemudian memberinya obat maag.

Tetapi sekitar dua hari kemudian, Ibu Ruli merasakan kesakitan yang hebat hingga tak mampu melakukan aktivitas sama sekali. “Waktu itu saya sempat jatuh sampai tidak bisa bangun di tempat tidur, tagan kaku, dan nafas tersengal-sengal,”cerita Ibu Ruli ketika memberi kesaksian dalam Acara Medika Natura bersama Jeng Ana di Jak TV, beberapa waktu lalu.

Karena kondisi makin parah, maka pihak keluarga memutuskan untuk membawanya ke Rumah Sakit, ke bagian spesialis internis. Setelah dilakukan berbagai pemeriksaan, termasuk rontgen, akhirnya terdeteksi adanya kista, miom, dan pembengkakan ginjal. “Ketika kencing juga keluar batu kecil,” terangnya.

Saat itulah dokter langsung menyarankan agar dilakukan operasi. Tetapi saran dokter tidak begitu saja dipenuhinya. Maklum, Ibu ruli termasuk orang yang takut dengan operasi. “Waktu itu bulan puasa. Secara tidak sengaja saya melihat Jeng Ana di televisi bicara soal penyakit kista dan miom. Ini seperti Allah menunjukkan jalan kepada saya. Kemudian saya langsung menelepon ke Klinik Jeng Ana, dan besoknya datang ke klinik,” ujarnya.

Kebetulan waktu itu hari Sabtu, sehingga Ibu Ruli yakin kalau yang akan menangani adalah Jeng Ana langsung, karena jadwal praktik Jeng Ana di klinik pusat adalah hari Sabtu dan Minggu. “Tetapi ternyata Jeng Ana saat itu sedang umroh. Jadi saya ditangani oleh asistennya saja,” kata ibu setengah baya ini.

Setelah selesai konsultasi, ketika pulang Ibu Yuli diberi satu paket ramuan. “Dua minggu setelah saya diberi ramuan itu dan saya konsumsi, alhamdulillah badan saya mulai fit. Saya mulai bisa jalan. Dan setelah satu bulan, saya mulai bisa beraktivitas kembali,” jelas Ibu Ruli senang.

Perkembangan menggembirakan ini membuat Ibu Ruli semakin semangat melanjutkan ke paket selanjutnya. Tak lama setelah itu dia melakukan pengecekan ke dokter ternyata dikatakan bahwa miom yang semula harus dioperasi itu sudah hilang. “Ginjal saya juga sudah mulai normal, kencing batunya sudah mulai nggak ada. Anak saya juga bilang kalau kaki saya yang dulunya benjol-benjol sekarang sudah jadi bagus. Tetapi saya tetap melanjutkan konsumsi herbal Jeng Ana sampai sekarang,” tuturnya .

Sementara itu Jeng Ana menjelaskan bahwa ketika Ibu Ruli datang berobat ke kliniknya, laporan medis dari dokter menunjukkan ada miom sepanjang 5 cm. Sedangkan kistanya sudah mencapai 10 cm. Kondisi ini mengakibatkan terjadinya desakan atau gesekan antara kista dan miom yang berdampak dengan terjadinya pembengkakakn ginjal.

“Kalau kista kan berada di ovarium, tapi kalau miom posisinya di dalam rahim. Jadi, antara rahim ke kantong kemih itu terdapat batu di saluran kemih. Ini terjadi mungkin karena urin yang tidak bisa keluar secara normal karena terjadinya desakan antara miom dan kista tersebut. Jadi terjadinya pembengkakan ginjal itu karena kista sudah lebih dari 9 cm,” terang Jeng Ana..

Tetapi alhamdulillah penyakit yang semula membuat keluarga Ibu Ruli sangat cemas itu kini telah berlalu. Bahkan perempuan yang kini sudah meninggalkan obat-obatan kimia ini merasa lebih sehat dengan ramuan Jeng Ana. “Sampai sekarang saya masih tetap mematuhi pantangan-pantangan Jeng Ana, banyak makan buah dan jus. Jadinya badan saya terasa sehat sekali. Tadinya saya sangat gemuk mbak, sekarang baju lama saya bisa saya pakai kembali. Dan saya bisa beraktivitas luar biasa,” aku Ibu Ruli bangga.

Perempuan murah senyum ini juga mengaku masih suka menjalani terapi di Klinik Jeng Ana sekitar dua minggu sekali. “Setelah diterapi badan saya terasa sangat ringan. Mungkin pengaruh dari minyak kali ya, rasanya darah ini begitu llancar,” ujarnya.

Menurut Jeng Ana, terapi diperlukan untuk melakukan rileksasi. Tetapi, katanya, hal ini tidak mesti dilakukan dengan cara datang ke klinik, tetapi bisa juga dilakukan di rumah. Karena, jelas Jeng Ana, semua pasien yang berobet ke kliniknya selalu diberi bekal komplit ketika pulang. “Ada herbal untuk diminum, minyak rempah untuk treatment sendiri di rumah, kapsul yang berisi ekstrak rempah, juga aturan pola makan,” jelasnya.

Selain itu Jeng Ana juga menambahkan bahwa apa yang dilakukan oleh Ibu Ruli adalah sebagai contoh nyata bahwa pengobatan yang dilakukan oleh Jeng Ana sendiri maupun oleh asistennya adalah sama saja. “Jadi, pasien tidak perlu khawatir kalau yang menangani asisten. Jangan hanya menunggu kami, karena penyakit tidak bisa menunggu, sedangkan waktu kami sangat terbatas,” paparnya.

Jeng Ana pun meyakinkan bahwa semua asisten yang membantunya di Jakarta maupun di klinik cabang merupakan pengobat yang berbakat, serta dibekali dengan pendidikan khusus. Semuanya juga memiliki sertifikat.sebagai pengobat. “Saya sendiri juga selalu membimbing mereka. Jadi tidak ada yang perlu diragukan. Apalagi ramuan yang mereka berikan kepada pasien juga sama persis dengan yang saya berikan kepada pasien,” tuturnya.


++++

Artikel terkait...