rani

Operasi kista berukuran 11 cm yang dilakukan Bu Euis Rani bukannya membuatnya sembuh, melainkan justru menimbulkan kanker ovarium. Peristiwa yang terjadi sekitar tahun 2011 ini tentu saja membuat wanita asal Garut ini syok.

“Waktu itu saya hampir seminggu berada di rumah sakit karena operasi. Setelah pulang, dokter menyarankan untuk melakukan cek laboratorium untuk mengetahui kondisi paska operasi. Ternyata dari hasil lab diketahui kalau ada kanker di ovarium. Kata dokter waktu itu sudah stadium dua,” terang Rani ketika mendampingi Jeng Ana untuk memberi kesaksian pada acara Medika Natura dio Jak TV, beberapa waktu lalu.

Dengan kondisi ini, lanjut Rani, dokter lantas menyarankan untuk melakukan kemo.  Mendengar saran itu, Rani tak langsung melakukannya. “Mendengar kata kemo saja saya takut. Saya kemudian mencari alternatif pengobatan,” jelasnya.

Nah, di saat berikhtiar mencari pengobatan alternatif itu, Rani mengaku tak sengaja menonton Jeng Ana di televisi. “Waktu itu ada pasien yang juga sembuh dari kanker setelah mengkonsumsi herbal Jeng Ana. Kebetulan pasien kanker otak. Akhirnya saya dan keluarga sepakat untuk melakukan pengobatan di Jeng Ana,” ujarnya.

Karea tempat tinggalnya di Garut, saat itu Rani memilih untuk datang ke Klinik Herbal Jeng Ana cabang Bandung, di bilangan Kopo Permai. “Yang melayani waktu itu asisten, karena Jeng Ana sedang tidak praktik di Bandung,” tuturnya.

Kepada sang asisten Jeng Ana, Rani menyerahkan semua rekam medis selama melakukan pengobatan di rumah sakit. Setelah konsultasi dan data-data tersebut dipelajari sang asisten, Rani diberi satu paket lengkap ramuan herbal. Selain itu, asisten Jeng Ana itu juga menjelaskan secara detail bagaimana cara menggunakannya, serta mengenai pantangan dan pola makan.

“Alhamdulillah setelah seminggu saya mengkonsumsi obat dari Klinik Jeng Ana, kondisi saya sudah jauh lebih enak. Semula badan rasanya sakit semua, perut kembung, susah buang angin, buang air besar, dan kepala juga pusing. Tetapi seminggu setelah minum herbal Jeng Ana, badan sudah tidak sakit, juga sudah bisa buang air besar,” papar Rani.

Seiring dengan ketekunannya mengkonsumsi ramuan, kondisi kesehatan Rani pun terus membaik. Bahkan setelah satu paket ramuan herbal habis, yakni sekitar dua bulan, kanker ovarium yang diderita Rani sembuh total. Ini diketahui setelah melakukan uji lab dan memeriksakannya ke dokter.

Menanggapi kesaksian pasien ini, Jeng Ana menjelaskan bahwa penderita kista dengan ukuran lebih dari 8-10 cm memang berisiko memunculkan kanker bila dilakukan langkah operasi. “Dalam kasus yang diderita Bu Rani, kondisinya terlihat dari hasil cek darah sebelum melakukan operasi. Dari rekam medis yang disampaika ke kami, disitu terlihat bahwa CA 125-nya sudah 470-an. Artinya, risiko kanker sangat besar. Ibarat pencari mangsa yang semula diam, maka dia akan menyebar dan mencari sasaran paling berisiko tinggi setelah menjalani operasi. Karena itu, paska dua minggu operasi, perut Bu Rani membengkak,” jelas Jeng Ana.

Pembengkakan perut itu, ujar Jeng Ana, terjadi karena aksitis, yakni adanya cairan di bagian bawah abdomen yang jumlahnya bisa beberapa liter. Untuk menghilangkan ini, lanjut Jeng Ana, pengobatan medis pasti akan menyarankan kemo.

“Karena itu ketika datang ke klinik, Bu Rani kami sarankan untuk melakukan tes hematologi lengkap. Hasilnya ternyata benar, HB saja 8 sehingga otomatis bermasalah. CEA juga sudah 120 sekian, sedangkan CA 125 sudah sekitar 1900-an. Selain itu juga ada trombosit 699 sehingga terjadi pengentalan. Ini yang menyebabkan pusing. Nah, dari data tersebut, maka kami katakan bahwa kanker ovarium yang diderita Bu Rani sudah stadium lanjut atau empat. Karena itu tidak bisa buang angin, buang air besar, dan juga buang air kecil,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, Klinik Jeng Ana memberikan obat herbal yang telah disesuaikan komposisinya. “Alhamdulillah setelah dua minggu mengkonsumsi herbal, kondisinya sudah membaik. Bahkan setelah satu paket habis, data lab menunjukkan bahwa kondisi Bu Rani sembuh total. Itu berdasarkan hasil pemeriksaan dokter,” tandas Jeng Ana.

Kesembuhan Bu Rani sekaligus membuktikan bahwa pengobatan di Klinik Jeng Ana tidak harus dutangani langsung oleh Jeng Ana. Para asisten yang berada di klinik-klinik cabang ataupun di pusat juga memiliki kemampuan yang sudah teruji, karena telah dilatih dan dipersiapkan secara khusus. “Yang pasti, meskipun asisten yang menangani, namun obat yang diberikan ke pasien adalah hasil racikan saya sendiri,” pungkas Jeng Ana. (*)

 


++++

Artikel terkait...