Jangan lupa saksikan inspirasi pagi bersama Jeng Ana setiap hari sabtu dan minggu pukul 08.00 s/d 09.00 WIB di Jak tv.

SOLUSI KESEHATAN KELUARGA INDONESIA


sarmi

Kanker otak merupakan momok yang menakutkan bagi siapapun. Tak heran bila H Mahfud sempat stres ketika mengetahui bahwa istrinya, Hj Sarmi, mengidap meningioma.

Meningioma adalah jenis lain dari tumor otak. Tumor ini paling sering terjadi pada ibu-ibu berusia antara usia 40 – 70. Kanker jenis ini memang umumnya bersifat jinak. Namun dapat menyebabkan komplikasi yang merusak dan kematian karena ukuran mereka atau lokasi.

Seperti halnya jenis kanker lain, meningioma sulit dikenali tanpa melalui pemeriksaan lab. Hj Sarmi pun semula tidak menyangka bila penyakit yang dideritanya adalah kanker otak. “Semula kami mengira hanya sakit mata saja. Karena penglihatan mata terus-menerus berkurang. Itulah sebabnya kami bawa ke dokter mata,” jelas H Mahfud ketika memberi kesaksian di acara ‘Medika Natura’ bersama Jeng Ana di Jak TV, beberapa waktu lalu.

Walhasil, obat-obatan yang diberi oleh dokter mata itu pun tak mampu memberi kesembuhan. Pun dengan kacamata yang diberi dokter juga tak bisa mengatasi penyakit Bu Sarmi.

Sebaliknya kondisi Bu Sarmi justru semakin parah. Kali ini bukan penglihatan yang terganggu, tetapi juga rasa sakit kepala luar biasa juga dirasakan Bu Sarmi. “Karena sakitnya yang luar biasa, saya sampai menarik rambut saya sampai tercabut,” sambung Bu Sarmi, mengenang penyakit yang dideritanya sejak akhir tahun 2010 silam.

Dengan kondisi ini, dokter lantas menyuruh Bu Sarmi untuk melakukan MRI. “Dari situ baru diketahui kalau istri saya ternyata menderita kanker otak Meningioma,” ujar Mahfud.

Mendengar keterangan dokter tentu saja pasangan berusia 50 tahunan ini terkejut bukan kepalang. Apalagi hasil MRI memperlihatkan adanya dua titik meningioma, yakni satu titik berukuran 17 x 23 x 26 dan satu lagi berukuran 11 x18 x 18. “Dokter menyarankan untuk melakukan operasi belah tengkorak. Karena di dua lokasi, maka operasinya juga dua kali,” katanya.

Mahfud pun hanya bisa pasrah, dan menyerahkan pada istrinya untuk memutuskan. “Rupanya istri saya tidak siap untuk melakukan operasi. Saya sendiri juga ngeri ketika mendengar belah tengkorak,” ujarnya.

Di tengah kebingungan inilah pasangan Mahfud – Sarmi akhirnya memutuskan untuk berobat ke Klinik Herbal Jeng Ana. Walhasil, sejak mengkonsumsi herbal yang diberikan Jeng Ana, kondisi Bu Sarmi berangsur membaik. “Setelah tiga paket, kondisi istri saya sudah sembuh. Penglihatannya sudah normal, sakit pusingnya juga hilang,” terang Mahfud.

Padahal, kata Mahfud, dulunya Sarmi tidak bisa mengenali bentuk dan warna. Bahkan untuk berjalan saja harus dipapah. “Alhamdulillah sekarang sudah normal kembali,” ujarnya.

Jeng Ana berpesan kepada masyarakat agar rajin memeriksakan diri kalau mengalami gangguan kesehatan yang agak aneh. Pasalnya kanker hanya bisa dideteksi melalui pemeriksaan lab.

Meningioma tumbuh dan berasal dari lapisan luar otak (duramater), sehingga letaknya bisa bervariasi. Lokasi tumor yang sering diantaranya pada area konveksitas kalvaria, basis frontal (olfactory groove), tuberculum sella, sphenoid wing atau di area fossa posterior.

Sementara gejala yang timbul, jelas Jeng Ana,  sangat bervariasi tergantung letak tumornya. Gejala paling sering adalah nyeri kepala khronis yang semakin lama semakin berat. “Gejala lain diantaranya gangguan penglihatan, gangguan penciuman, kejang, kelemahan anggota badan sampai penurunan kesadaran,” tutur Jeng Ana. (*)


++++

Artikel terkait...