Jangan lupa saksikan inspirasi pagi bersama Jeng Ana setiap hari sabtu dan minggu pukul 08.00 s/d 09.00 WIB di Jak tv.

SOLUSI KESEHATAN KELUARGA INDONESIA


bp-pom1-710x150

JAKARTA: Tren pengobatan herbal membuat masyarakat latah untuk menggunakan tanaman herbal dengan seenaknya. Padahal penggunaan tanaman herbal dengan cara yang salah bukannya mampu menyembuhkan penyakit, tetapi malah bisa menjadi malapetaka.

Menurut Deputi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Ruslan Aspan MM, masyarakat harus berhati-hati dalam menggunakan tanaman obat herbal. “da pandangan bahwa herbal itu turun dari alam sehingga pasti aman digunakan. Pandangan itu sama sekali tidak benar. Karena ada herbal yang mengandung racun, jadi tidak semuanya aman,” terang Ruslan di Jak TV, beberapa waktu lalu.

Ruslan Aspan tampil sebagai salah satu nara sumber dalam acara B-Jak (Bicara Tanpa Jarak) bersama Ratu Herbal Indonesia ‘Jeng Ana’ dan artis yang juga mantan penderita tumor otak, Epi Kusnandar.

Jeng Ana menambahkan, bahwa dosis dan komposisi penggunaan tanaman herbal juga sangat menentukan dalam pengobatan penyakit. “Penggunaan komposisi dan takaran herbal yang salah justru bisa menjadi racun bagi bagian tubuh lainnya,” terang Jeng Ana.

Pemilik klinik pengobatan herbal di sejumlah daerah di Jawa dan Luar Jawa ini mencontohkan kasus yang pernah dialami oleh Epi Kusnandar. Sebelum berkonsultasi dengan dirinya, kata Jeng Ana, pemeran satpam dalam sinetron komedi ‘Suami-Suami Takut Istri’ itu sempat disarankan untuk mengkonsumsi daun sirsak.

“Waktu itu setiap hari saya mengjonsumsi daun sirsak seperti disarankan. Tetapi begitu saya konsultasi ke Jeng Ana, katanya harus hati-hati dengan daun sirsak karena  bisa beracun ke ginjal. Saya langsung stop daun sirsak, kemudian dikasih ramuan-ramuan yang pas,” jelas Epi Kusnandar.

Epi merasakan bahwa ramuan yang diberikan oleh Jeng Ana benar-benar tepat, sehingga kini penyakit yang semula sempat membuatnya putus asa itu kini benar-benar sembuh. “Saya benar-benar merasa bahagia bisa dipertemukan dengan Jeng Ana,” ungkap Epi berbinar-binar.

Jeng Ana memang tidak sembarangan dalam memberikan obat bagi pasiennya. Kliniknya, baik di pusat maupun cabang, menerapkan standar baku. Bagi setiap pasien yang datang, kata Jeng Ana, disarankan untuk membawa hasil pemeriksaan medis dari rumah sakit atau laboratorium, misalnya hasil scanning, rontgen, atau lainnya.

Dari laporan medis itulah, Jeng Ana kemudian membuatkan ramuan yang tepat, baik jenis tanaman herbalnya maupun dosis dan komposisinya, sesuai dengan penyakit yang diderita pasien. “Bahwa semua herbal memang bisa digunakan. Tetapi tidak bisa sembarangan. Seperti contohnya, sekarang ini banyak digunakan daun sirsak. Kalau digunakan berlebihan akan berdampak pada fungsi ginjal. Jadi kita harus waspada. Jangan main rebus atau main menggunakannya saja,” saran Jeng Ana.

Selain itu setiap kali berobat, pasien juga diharuskan membawa laporan hasil pengobatan untuk mengetahui perkembangannya. “Keberhasilan obat herbal ini sejauh mana dengan penyakit yang diderita pasien,” terangnya.

Karena itu, kata Jeng Ana, pasien tidak perlu khawatir kalau tidak ditanganinya secara langsung. Para asisten Jeng Ana, baik di pusat maupun di cabang, adalah tenaga-tenaga profesional yang memenuhi syarat. “Mereka semua sudah punya sertifikat dan juga surat dari asosiasi ASPETRI,” jelas Jeng Ana.

Karena kehati-hatian ini pula, sampai sekarang Jeng Ana menolak untuk memasarkan obat herbalnya ke pasar terbuka. “Kami tidak menjual bebas. Banyak yang ingin meminta untuk dijual, tetapi kami tidak pernah memberikan. Karena kami takut disalahgunakan. Karena kami belum memiliki ijin dari BPOM sendiri. Mudah-mudahan segera mendapatkan ijin itu,” kata Jeng Ana.

Sejauh ini sudah ribuan pasien dari berbagai daerah berhasil sembuh dengan bantuan pengobatan herbal dari klinik Jeng Ana. File-file para pasien itu, kata Jeng Ana, masih tersimpan rapi dalam dokumentasinya.

Ruslan Aspan malah menyarankan agar Jeng Ana mendokumentasikan file-file itu sebagai sebuah rujukan yang bermanfaat bagi dunia pengobatan tradisional di Indonesia. (*)

 


++++

Artikel terkait...