Jangan lupa saksikan inspirasi pagi bersama Jeng Ana setiap hari sabtu dan minggu pukul 08.00 s/d 09.00 WIB di Jak tv.

SOLUSI KESEHATAN KELUARGA INDONESIA


anker payudara ternyata tidak hanya terjadi pada wanita muda. Seorang nenek pun bisa terserang penyakit yang mematikan ini, seperti yang dialami oleh Paryati yang kini telah berusia 64 tahun.

Dalam kesaksiannya, Paryati mengungkapkan bahwa dirinya mengetahui adanya kanker justru setelah merasakan adanya benjolan. “Sebelum muncul benjolan, saya sama sekali tidak merasakan rasa sakit atau gejala yang aneh pada tubuh saya. Hanya kadang-kadang terasa agak pegal pada beberapa bagian tubuh saya,” terang Paryati saat mendampingi Jeng Ana pada acara Medika Natura di Jak TVm beberapa waktu lalu.

Karena khawatir akan terjadinya sesuatu, maka Paryati langsung melakukan pemeriksaan ke dokter dengan melakukan USG. Hasilnya diketahui bahwa sang nenek ini tengah menderita tumor Maligna. “Saat itu ukurannya sudah sekitar 1,9 cm, karena itu dokter menyarankan untuk melakukan pengangkatan,” ujar Paryati.

Namun, saran tersebut tidak dilakukan Paryati karena takut risiko operasi. Dia lebih memilih untuk melakukan pengobatan alternatif, yakni melalui Klinik Herbal Jeng Ana.

Tumor maligna adalah tumor yang terdiri dari sel-sel kanker dari jenis yang dapat menyebar ke bagian lain dari tubuh. Penyakit ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya: faktor genetik atau keturunan, virus, radiasi, kegagalan sistem imun, dan karena faktor hormonal.

Menurut Jeng Ana, gejala pegal-pegal yang dirasakan Paryati terjadi setelah benjolan berukuran sekitar 2 cm. Tetapi, lanjut Jeng Ana, pegal-pegal yang dirasakan tidaklah seperti penderita kolesterol. “Karena kram atau pegal-pegal yang terjadi adalah karena adanya tekanan,” tutur Jeng Ana.

Setelah konsultasi, Jeng Ana langsung melakukan terapi terahadap Paryati. Selain itu nenek 64 tahun ini juga harus menjalani mandi rempah untuk mengeluarkan racun-racun yang ada di dalam tubuhnya. “Saya perlu jelaskan bahwa mandi rempah disini sama sekali tidak ada unsur musyriknya. Karena ini murni pengobatan dengan menggunakan rempah. Ada sekitar 27 atau 29 jenis tanaman yang dipergunakan untuk mandi rempah ini. Selain itu bila dalam konsultasi itu pasien menyampaikan keluhan-keluhan tertentu, maka kami menambahkan dengan jenis rempah lain sesuai dengan jenis penyakitnya,” jelas pemilik Klinik Herbal Jeng Ana itu.

Selain itu, Jeng Ana juga memberikan ramuan untuk direbus dan kemidian diminum, juga paket kapsul ekstrak herbal, minyak rempah dan air doa. “Untuk rempah yang direbus itu terdiri dari sedikitnya 21 jenis tanaman obat yang sudah diracik dengan dosis yang sudah disesuaikan dengan jenis penyakit pasien,” tambah Jeng Ana.

Karena itu, kata Jeng Ana, herbal yang diberikannya kepada pasien sama sekali tidak memberi efek samping. “Kalau ada yang mengatakan bahwa herbal bisa berefek pada ginjal, maka itu terjadi karena mereka menggunakannya secara tidak tepat. Penggunaan herbal yang sembarangan bahkan bisa menjadi racun,” tegasnya.

Selain itu, Jeng Ana juga memastikan bahwa herbal yang dipergunakannya sama sekali tidak menggunakan campuran bahan kimia. “Obat yang kami berikan kepada pasien 100 persen berasal dari tanam-tanaman obat. Kalau misalnya pasien yang habis berobat dari dokter itu masih mengkonsumsi obat kimia, maka harus diberi jeda waktu sekitar 2 jam. Karena pencampuran herbal dengan bahan kimia justru bisa membahayakan bagi pasien,” jelas Jeng Ana.

Setelah mengkonsumsi ramuan dari Jeng Ana, kini benjolan di payudara Paryati sudah tidak ada lagi. Tak hanya itu, Paryati juga merasakan kulit tubuhnya menjadi lebih bersih dan lebih kencang. “Saya bersyukur sekali bisa menjalani pengonatan di Klinik jeng Ana,” ujar Paryati. (*)

 

 

 


++++

Artikel terkait...