angguan pada bagian penglihatan tentu saja sangat menyiksa. Apalagi kalau sampai mata kita yang semula normal tiba-tiba kehilangan daya penglihatan, rasanya sudah pasti membuat frustrasi.

Inilah yang pernah dirasakan oleh Bu Hayati. Perempuan berusia 50-an tahun ini sekitar satu tahun yang lalu tiba-tiba tidak mampu melihat. “Semula penglihatan saya hanya kabur. Tetapi lama kelamaan pandangan semakin gelap, dan bahkan akhirnya tidak bisa melihat sama sekali. Kalau melihat hanya kelihatan seperti bayangan, tidak bisa melihat wajah atau warna,” terang Bu Hayati.

Kondisi ini jelas membuat bingung Bu Hayati dan keluarganya. Setelah diperiksakan ke dokter dengan pemeriksaan scan atau MRI ternyata diketahui bahwa Bu Hayati menderita Meningioma, yakni tumor yang tumbuh di bagian lapisan luar otak.

“Kata dokter waktu itu, penyakit ini hanya bisa disembuhkan dengan cara operasi. Ibu pun langsung setuju untuk operasi, mungkin karena sudah tidak tahan dengan kondisi seperti orang buta. Tetapi kami sebagai anak dan keluarga tidak setuju, karena menurut dokter, risiko operasi di bagian otak juga sangat besar,” jelas Krisna, putri Bu Hayati, saat mendampingi ibunya memberi kesaksian pada acara Medika Natura di Jak TV, beberapa waktu lalu.

Beberapa hari kemudian, secara tak sengaja keluarga Bu Hayati menonton televisi yang menayangkan Jeng Ana. “Kalau nggak salah watu itu Jeng Ana tampil di acara Bukan Empat Mata,” terang Bu Hayati.

Tanpa banyak pikir, Bu Hayati pun diantar anaknya datang ke Klinik Herbal Jeng Ana di Jakarta.  Kebetulan waktu itu Jeng Ana sendiri yang menemui Bu Hayati. “Dari data rekam medis yang beliau bawa, terutama hasil scan MRI terlihat sangat jelas bagaimana penyakit yang menyebabkan gangguan mata Bu Hayati,” jelas Jeng Ana.

Jeng Ana memang mengharuskan pasien yang berobat untuk membawa hasil uji lab atau rekam medis dari dokter. Menurut Jeng Ana, data tersebut sangat penting, selain untuk memastikan jenis penyakitnya juga agar pasien bisa melihat sendiri apa sebenarnya yang sedang diderita. “Meskipun tanpa hasil uji lab atau rekam medis sebenarnya kami bisa mengetahui jenis penyakitnya, namun dengan rekam medis bisa lebih memastikan dan meyakinkan pasien sendiri,” sambung Jeng Ana.

Mengenai Meningioma yang diderita Bu Hayati, Jeng Ana pun berusaha merunut apa yang menjadi penyebabnya. Hal ini dilakukan dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan kepada pasien tentang apa saja yang dilakukan atau yang terjadi sebelum menderita penyakit.

“Dalam kasus Bu Hayati ternyata berkaitan dengan penggunaan kontrasepsi yang terlalu lama, yakni sekitar 10 tahun. Jadi, jangan kira yang terjadi pada bagian peranakan itu tidak mempengaruhi bagian tubuh lainnya, termasuk kepala. Karena, progesteron itu tidak hanya ada di bagian ovarium, tetapi juga di bagian atas, yakni kepala,” tutur Jeng Ana.

Menurut Jeng Ana, Meningioma itu muncul karena penumpukan semacam lemak dan membentuk sumbatan. “Ini terjadi lantaran hormon-hormon yang semestinya dikeluarkan melalui haid bulanan ternyata tidak bisa keluar,” terangnya.

Setelah mengetahui penyakit tersebut, Jeng Ana pun memberikan ramuan yang tepat dengan komposisi yang tepat pula. “Obat yang kami berikan ketika pertama datang, yaitu untuk dua bulan. Kami tdk bisa meracik herbal untuk pengobatan seminggu atau dua minggu, karena ramuan kami menggunakan ratusan tanaman. Selain itu, pengobatan penyakit juga tidak bisa dilakukan secara instan. Apalagi untuk penyakit tumor dan kanker,” jelasnya.

Saat itu Jeng Ana juga menjelaskan kepada Bu Hayati, bahwa untuk jenis penyakit tumor atau kanker membutuhkan pengobatan minimal 3 paket. “Jadi, yang saya sampaikan pahitnya dulu. Karena untuk kanker, biasanya baru pada bulan ke-7 kita bisa mengetahui kesembuhannya, yakni melalui hasil MRI,” ujar Jeng Ana.

Tetapi selama proses mengkonsumsi herbal juga terus dilakukan pemantauan perkembangan pasien. “Seperti Bu Hayati ternyata bilang kalau sudah merasakan perkembangan yang nyata hanya setelah 3 hari mengkonsumsi obat,” kata Jeng Ana.

Bu Hayati pun menambahkan bahwa penglihatannya memang berangsur membaik setelah 3 hari meminum ramuan herbal yang diberikan Jeng Ana. “Saya meminum ramuan Jeng Ana 6 kali sehari. Saya perhatikan terus perkembangannya. Dan alhamdulillah, mata saya yang semula sama sekali gelap kemudian bisa melihat agak terang setelah 3 hari meminum herbal Jeng Ana. Kondisi ini berkembang terus hingga mata saya benar-benar bisa melihat jelas. Sekarang mata saya bahkan tidak hanya terang, tetapi juga bisa melihat jauh,” ujar Bu Hayati gembira.

Sambil menahan keharuan atas kesembuhannya, Bu Hayati pun berbagi saran kepada pasien penderita Meningioma lainnya. “Jujur semula saya putus asa setelah dokter mengatakan bahwa satu-satunya cara pengobatan penyakit saya harus operasi. Tetapi berkat kekuasaan Allah melalui tangan Jeng Ana, sekarang saya sembuh. Jadi, saya sarankan bagi pasien lainnya yang seperti saya untuk menempuh jalan seperti yang saya lakukan,” pungkas Bu Hayati.

 

 


++++

Artikel terkait...