Jangan lupa saksikan inspirasi pagi bersama Jeng Ana setiap hari sabtu dan minggu pukul 08.00 s/d 09.00 WIB di Jak tv.

SOLUSI KESEHATAN KELUARGA INDONESIA


kanker-hati-710x150

Assalamu’alaikum ….

Saya Yuli. Bapak saya divonis dokter terkena kanker hati. Sudah beberapa hari nih selalu muntah darah, dan air seninya pun sudah bercampur darah. Dan juga bapak saya sudah gak kuat kalau harus bepergian.

Mohon bantuan dan solusinya, apa bisa kalau pengobatannya tanpa ada yang bersangkutan.Terimakasih.

Wassalamu’alaikum …

Yully
kyully@ymail.com

JAWAB:

Wa’alaikum salam…

Kanker hati atau dalam dunia medis dikenal dengan Hepotema merupakan suatu proses keganasan pada organ hati, baik primer maupun sekunder. Pada kanker hati primer, artinya sel-sel kanker mulai tumbuh dari sel hati itu sendiri yang selanjutnya bisa menyebar dan merusak organ lain. Sedangkan pada kanker hati sekunder, disebabkan adanya proses penyebaran kanker dari tempat lain. Misalnya dari kanker saluran pencernaan, kanker paru, kanker payudara dan lainnya.

Penyakit ini merupakan salah satu jenis kanker yang banyak dijumpai di dunia. Berdasarkan data Globocan yang dirilis oleh the International Agency for Research on Cancer (IARC), pada tahun 2008 tercatat 748.000 kasus kanker hati yang terdiagnosa.

Penyakit ini merupakan kanker dengan angka kematian tertinggi ketiga, dengan 696.000 pasien meninggal dunia setiap tahunnya. Lebih dari 85% dari kasus tersebut terjadi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Riset yang sama juga menunjukkan bahwa di Indonesia terdapat 13.238 kasus kanker hati dengan angka kematian mencapai 12.825 jiwa. Angka ini diperkirakan terus bertambah seiring meningkatnya prevalensi penderita hepatitis B dan C yang saat ini mencapai 30 juta jiwa. Sebanyak 50% di antaranya diperkirakan menderita penyakit hati kronis dan 10% mengalami kanker hati.

Kanker hati memang selalu dikaitkan dengan infeksi Hepatitis B atau Hepatitis C. Umumnya, penderita kanker hati pernah terinfeksi Hepatitis B atau C. Kedua penyakit ini ditularkan melalui cairan tubuh, bisa terjadi karena hubungan seksual, jarum suntik, dan transfusi darah.

Berdasarkan hasil survey, kanker hati lebih banyak diderita kaum pria dibandingkan wanita. Mengapa? Sampai saat ini belum diketahui penyebab pastinya. Tetapi hal ini diduga kaktivitas pria di luar lebih banyak dibandingkan wanita. Perbandingannya sekitar tiga banding satu sampai enam banding satu dan biasanya terjadi pada pasien di usia 40 sampai 50 tahun.

Adapun gejala kanker hati yang dirasakan oleh penderita, di antaranya timbul rasa nyeri dan benjolan di perut kanan atas, kembung, nafsu makan turun, perut terasa penuh, berat badan turun drastis, badan lesu, mual dan muntah, kulit dan mata berwarna kuning, tinja berwarna pucat dan air seni berwarna gelap.

Apa penyebab kanker ini? Sampai sekarang belum diketahui pasti apa penyebabnya. Namun kanker hati kanker hati primer (karsinoma hepatoseluler) cenderung terjadi pada hati/liver yang  rusak karena cacat lahir, penyalahgunaan alkohol, atau infeksi kronis akibat penyakit seperti hepatitis B dan C, hemochromatosis (terlalu banyaknya kadar besi dalam hati) dan sirosis. Lebih dari 50% orang yang terdiagnosa kanker hati primer, telah mengalami sirosis hati. Mereka yang menderita kondisi genetik yang disebut hemochromatosis memiliki risiko yang lebih besar.

Berbagai zat penyebab kanker yang berhubungan dengan kanker hati primer, termasuk diantaranya: herbisida, aflatoksin (sejenis jamur tanaman pada gandum & palawija), dan bahan kimia tertentu seperti vinil klorida dan arsen. Merokok plus penyalahgunaan alcohol juga dapat meningkatkan risiko terkena kanker hati.

Lantas mungkinkah penyakit ini diobati secara herbal? Jawabnya sangat mungkin. Cukup banyak herbal yang sudah terbukti manjur untuk mengobati penyakit yang mematikan ini. Diantaranya yang belakangan banyak digunakan adalah sarang semut dari Papua. Tentu saja tidak cukup dengan hanya itu, apalagi untuk penderita yang sudah kronis, membutuhkan perlakuan khusus. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah penerapan pola makan dan gaya hidup sehat, dengan menjauhi pantangan-pantangannya.

Apakah pengobatan bisa dilakukan tanpa kehadiran yang bersangkutan? InsyaAllah bisa. Yang penting, sesuai prosedur pengobatan di klinik kami, adalah adanya rekam medis atau hasil uji lab terbaru, sehingga terapi dan komposisi ramuan yang diberikan benar-benar tepat.


++++

Artikel terkait...