Jangan lupa saksikan inspirasi pagi bersama Jeng Ana setiap hari sabtu dan minggu pukul 08.00 s/d 09.00 WIB di Jak tv.

SOLUSI KESEHATAN KELUARGA INDONESIA


Assalamualaikum…

ebulan yang lalu saya dirawat di RS dan diagnosa menderita meningitis. Awalnya saya suka sakit kepala hebat, hampir setiap saat. Setelah dilakukan CT scan, terdapat pembengkakan cairan di otak saya, dan peradangan. Tetapi setelah keluar RS dan kontrol kmbali dan CT scan lagi ternyata belum ada tanda-tanda perubahan yang signifikan.

Sekarang saya masih suka terasa sakit kepala dan pusing-pusing. Kepala terasa berat dan suka mengalami seperti sedang gempa. Tolong dibantu infonya, saya berniat mau berobat alternatif saja, dan mau mencoba ke Klinik Herbal Jeng Ana.

Terima kasih

Nadia Nur Rizki
Nadia_29@yahoo.co.id

JAWAB:

Wa’alaikum salam …

eningitis merupakan radang membran pelindung yang menutupi otak (meninge) dan bagian dari sistem saraf pusat (korda spinalis). Umumnya disebabkan oleh bakteri, virus ataupun jamur. Mulanya organisme tersebut masuk ke darah, kemudian menyebar hingga masuk ke dalam cairan otak.

Berdasarkan hasil penelitian, jenis organisme yang menyebabkan meningitis ternyata sangat menentukan tingkat penyakit ini. Meningitis yang disebabkan oleh virus umumnya jinak atau ringan. Bahkan seringkali virus ini hilang dengan sendirinya tanpa harus melalui perawatan khusus.

Lain halnya dengan meningitis yang disebabkan oleh bakteri. Sejumlah temuan menunjukkan bahwa bakteri bisa mengakibatkan kerusakan otak. Kalau otak sudah rusak tentunya berdampak pada bagian tubuh lainnya, karena otak merupakan pusat pengontrol syaraf tubuh kita.

Pada tahun sebelum 990an, bakteri yang dikenal sering menjadi penyebab meningitis adalah Haemophilus influenzae type b (Hib). Inilah alasannya mengapa anak-anak biasanya diimunisasi dengan vaksin Hib.

Namun belakangan, bakteri penyebab meningitis bukan Hib lagi, melainkan Streptococcus pneumoniae dan Neisseria meningitidis. Selain itu juga bakteri bernama Listeria monocytogenes (listeria), yang lazim ditemukan di dalam debu dan makanan yang terkontaminasi, seperti keju, hot dog dan daging sandwich. Bakteri ini berasal dari hewan lokal (peliharaan).

Sedangkan Meningitis disebabkan oleh jamur sangat jarang. Jenis ini umumnya diderita orang yang mengalami kerusakan immun (daya tahan tubuh) seperti pada penderita AIDS.

Apakah meningitis bisa menular? Dalam beberapa kasus meningitis ternyata bisa menular, terutama yang disebabkan oleh bakteri. Bakteri dapat menyebar dari satu orang ke yang lain, terutama melalui kontak dengan cairan respirasi atau tenggorakan (ludah, ingus, dahak, dll). Miisalnya dengan batuk-batuk, bersin, atau berciuman.

Untungnya, tidak ada bakteri meningitis yang dapat menular semudah penularan flu. Selain itu penularan meningitis juga tidak bisa terjadi hanya dengan sekedar berdekatan dengan sang penderita. Meski demikian, orang yang merawat pasien meningitis dalam waktu lama dan sering ada kontak langsung dengan pasien, apalagi jika ada kontak langsung dengan cairan dari mulut pasien, maka ada resiko untuk terkena bakteri yang sama. Untuk itu, jika perlu bagi keluarganya diberikan vaksinasi.

The Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) merekomendasikan vaksinasi meningitis pada mereka berusia 11-18 tahun. Usia praremaja (11-12 th) merupakan usia terbaik sebelum dewasa untuk menerima vaksinasi meningitis. Karena kejadian meningitis dapat meningkat pada usia dewasa, mereka yang belum pernah divaksinasi meningitis disarankan mendapat vaksinasi seawal mungkin.

Karena itu dirasa penting untuk melakukan pemeriksaan sebelum terjadinya meningitis akut. Untuk memastikan atau mendiagnosa adanya bakteri atau virus penyakit ini harus dilakukan dengan pengambilan sampel dari cairan spinal (spinal tap). Untuk pemeriksaan lebih lanjut biasanya dilakukan MRI (magnetic resonance imaging) untuk melihat keadaan otak akibat infeksi tersebut.

Bagaimana dengan pengobatannya? Bila Anda melakukan pengobatan medis, dokter biasanya memberikan antibiotik sesuai dengan jenis bakteri yang menjadi penyebabnya. Namun dalam banyak kasus, penggunaan antibiotik ternyata tidak bisa menyembuhkan secara total. Bahkan efek samping penggunaan antibiotik yang terlalu lama juga bisa membahayakan bagian tubuh lainnya.

Sedangkan pengobatan secara herbal biasanya lebih aman karena tidak memiliki efek samping, meskipun prosesnya memang lebih lama. Cukup banyak jenis tanaman yang bisa menyembuhkan penyakit ini. Di klinik kami, memiliki racikan khusus yang mengkombinasikan sejumlah tanaman herbal dalam dosis tertentu yang sudah diukur sesuai dengan kondisi sang pasien.

Karena itu, bila penderita berobat di klinik kami, maka diwajibkan untuk membawa hasil rekam medis atau hasil uji lab terbaru. Ini menjadi bahan penting bagi kami dalam menentukan racikan yang tepat bagi sang pasien.

Yang tak kalah pentingnya adalah menjaga pola makan. Kami selalu menekankan hal ini kepada setiap pasien. Karena penggunaan obat yang tidak disertai dengan pola makan yang benar, maka hasilnya juga sulit untuk diharapkan.

Sedangkan bagi Anda yang sehat, sebaiknya lakukan hal-hal berikut ini agar tidak terjangkit meningitis, antara lain:

– Cuci tangan dengan baik dan sering, terutama mereka yang merawat atau berada berdekatan dengan pasien meningitis.

– Bersihkan permukaan-permukaan yang bisa terkontaminasi (misalnya handel pintu, remote TV, etc) dengan sabun dan air kemudian bilas dengan desinfektan atau cairan pemutih yang mengandung chlorine utk mencegah penyebaran virus.

– Tutupi mulut saat batuk, dengan tissue atau tangan. Jika menggunakan tissue, buang tisue ke tempat sampah, Jika menggunakan tangan, segera cuci tangan.

– Hindarkan mencium pasien, atau berbagi gelas minuman, atau hal-hal yang mungkin menyebabkan penyebaran virus.

– Lakukan vaksinasi, ada beberapa vaksinasi yang tersedia yaitu: Haemophilus influenzae type b (Hib), – Pneumococcal conjugate vaccine (PCV7), – Pneumococcal polysaccharide vaccine (PPV), dan Meningococcal conjugate vaccine (MCV4)

Demikian penjelasan kami, terimakasih.


++++

Artikel terkait...