Jangan lupa saksikan inspirasi pagi bersama Jeng Ana setiap hari sabtu dan minggu pukul 08.00 s/d 09.00 WIB di Jak tv.

SOLUSI KESEHATAN KELUARGA INDONESIA


aspetri

Tren pengobatan alternatif menggunakan tanaman obat (herbal) kian menjamur sejak beberapa tahun terakhir. Banyak anggota masyarakat yang mulai melirik herbal, dan khasiat herbal pun semakin diakui. Sayangnya, ditengah minat masyarakat yang semakin tinggi terhadap pengobatan herbal, selalu saja muncul persoalan. Salah satu persoalan tersebut adalah dengan tampilnya pengobat herbal gadungan yang hanya berniat mengeruk keuntungan secara materi.

“Para oknum pengobat herbal inilah yang membuat pengobatan herbal terkadang masih dipandang sebelah mata,” sesal Jeng Ana, herbalis berjuluk Ratu Herbal Indonesia.

Sikap apriori masyarakat itu diperparah lagi dengan layanan para pengobat herbal yang tidak profesional dan kurang bermutu. Karena itulah, sebagai langkah terobosan Jeng Ana tidak hanya terus meningkatan layanan maupun kualitas herbal racikannya, tapi juga selalu meminta kepada pasien agar membawa cek laboratorium. Hal ini dia lakukan untuk menepis keraguan pasien akan pengobatan herbal yang dilakukannya.

“Cek laborat itu tidak hanya saya minta pada saat memulai pengobatan, tapi juga setelah pengobatan berjalan. Dengan cara ini pasien bisa melihat hasil dari penyembuhan yang dilakukan. Alhamdulillah cara ini sangat berhasil. Mayoritas pasien saya sembuh, dan akhirnya terjadilah efek gethok tular (kabar dari mulut ke mulut-B.Jawa). Dengan demikian masyarakat semakin mencintai herbal Indonesia,” papar Jeng Ana.

Langkah positif Jeng Ana tersebut mendapat apresiasi dari Ketua Umum Asosiasi Pengobat Tradisional Ramuan Indonesia (ASPETRI) Yashim Seiff, SH., MBA. Menurutnya, dengan keharusan cek laboratorium seperti yang dilakukan oleh Jeng Ana, hal ini tidak hanya menepis keraguan pasien terhadap pengobatan herbal, tapi sekaligus juga membuktikan bahwa pengobat herbal dapat bersinergi dengan dunia medis kedokteran modern.
“Mereka bisa saling mengisi dan tak perlu saling menjatuhkan satu sama lain,” harap Yashmin.

Namun demikian, sesuai SOP (standard operation procedure) yang diterapkan oleh ASPETRI, para pelaku pengobatan tradisional, tak terkecuali herbalis, tidak diperbolehkan menggunakan alat-alat kedokteran modern. Salah satu tujuannya adalah agar tidak ada pelanggaran ranah profesionalitas. Jika melanggar aturan ini, maka ASPETRI bisa memberikan sangsi administratif hingga memberikan usulan kepada lembaga terkait untuk menutup praktek pengobat yang bersangkutan.

ASPETRI sendiri merupakan satu-satunya wadah organisasi pengobatan alternatif yang diakui oleh pemerintah lewat Kementerian Kesehatan RI. Tujuan utama ASPETRI adalah untuk melakukan pembinaan sekaligus peningkatan mutu layanan pengobatan alternatif ramuan Indonesia. Karena itulah ASPETRI memiliki kewenangan untuk memberikan sertifikasi dan pelatihan yang dilakukan secara berkala.

“Saat ini ASPETRI memiliki sekitar tiga ribu anggota yang tersebar di seluruh Indonesia. Semua anggota ASPETRI memiliki layanan yang tersandard sesuai dengan ketentuan organisasi, sehingga mereka diharapkan dapat memberikan layanan berkualitas. Karena itulah bagi masyarakat yang ingin melakukan pengobatan herbal harus melihat dan mengamati apakah si pengobat sudah menjadi anggota ASPETRI atau belum. Maksudnya tidak hanya penting secara kualitas pelayanan dan ramuan, tapi juga secara legalitas bisa dipertanggungjawabkan,” terang Yashim Seiff, SH., MBA.

Di tempat dan waktu yang sama, mantan Kepala Pusat Kesehatan Mabes Polri Kombes (Pol) Dr. Sjamzurizal menegaskan bahwa peluang pengobatan herbal Indonesia sangat cerah. Karena itu dirinya mendukung langkah ASPETRI yang akan terus membenahi profesionalitas para pelaku pengobatan ini.

Menurutnya, bila melihat ketersediaan bahan baku di Tanah Air, peluang memproduksi dan memasarkan produk herbal sesungguhnya sangat luas. Karena itu ia menyarankan kepada herbalis seperti Jeng Ana untuk tidak hanya menjadi pelaku aktif yang secara langsung bersinggungan dengan pasien, tetapi juga harus menjadi pelaku aktif memproduksi obat-obatan herbal.

“Indonesia memiliki ribuan spesies tanaman yang patut dibanggakan. Mulai dari temulawak (Curcuma xanthoriza), kencur, jahe, pegagan hingga sambiloto. Bila diolah, bahan-bahan itu berkhasiat meningkatkan nafsu makan dan stamina serta membantu menyembuhkan berbagai penyakit, mulai penyakit hati, reumatik dan radang, serta menurunkan kolesterol. Nah, herbalis seperti Jeng Ana harusnya bisa mengambil peluang yang sangat bagus ini. Saya informasikan, pasar jamu per tahun mencapai Rp. 2,9 triliun,” urai Kombes (Pol) Dr. Sjamzurizal. (*)


++++

Artikel terkait...