Saksikan tayangan kami di program acara
INSPIRASI PAGI di JakTV Setiap hari senin s/d jumat jam 06.00 - 07.00 WIB


napas

Data penelitian menunjukkan bahwa 40 persen anak di bawah usia 10 tahun berisiko mengalami gangguan pernapasan, seperti pilek, hidung tersumbat, batuk, hingga radang tenggorokan. Gangguan organ nasal pada anak ini disebabkan oleh virus yang masuk ke dalam tubuh mereka.

Virus yang bernama Rhinovirus ini berasal dari udara dan dapat menyebabkan gejala Rhinitis. Rhinitis, memiliki karakteristik yang mirip dengan flu yang biasa menyerang pada anak, namun flu dan Rhinitis adalah dua hal yang berbeda.

“Flu kita dapat dari lingkungan sekitar, sama saja seperti ‘pemberian,’ sedangkan alergi adalah gangguan bawaan yang biasanya dipengaruhi oleh faktor keturunan seseorang,” ungkap Dr. Rusdian Utama Roeslani, SpTHT-KL, seorang spesialis THT dari RS. Gandaria.

Dr. Rusdian menjelaskan, alergi Rhinitis pada anak bisa disebabkan oleh interaksi sang anak dengan lingkungan sekitar. Bisa dari teman-temannya, ruangan sekolahnya, bahkan dari kamar tidurnya.

Alergi Rhinitis, memiliki gejala-gejala indikator seperti, terlalu sensitif dengan debu, rasa gatal pada mata, hidung, atau telinga, bersin-bersin, dan sesak napas.

Selain gejala di atas, gejala yang menandakan Rhinitis ini hampir tidak bisa dibedakan dengan gejala flu. Tapi, yang paling jelas adalah waktu berlangsungnya.

Flu atau pilek pada anak sekitar 1-3 hari, bisa dibilang aman dari alergi Rhinitis. Namun, jika gejalanya berlanjut hingga lebih dari sepekan, mungkin saja anak terkena alergi Rhinitis.

Bahaya alergi ini bisa memicu datangnya alergi lain di sekujur tubuh. Bisa asma, bintik merah pada kulit, sampai yang paling parah, sinusitis. Hal ini, menurut Dr. Rusdian dapat terjadi karena segala bakteri dan virus masuk dari satu saluran, yaitu saluran hidung.

Jika dari hidung saja bisa terkena alergi, bukan tidak mungkin bakteri tersebut masuk dan menjalar ke seluruh tubuh anak.

Terlebih pada anak, risiko terkena alergi Rhinitis sangat besar. “Anak-anak belum memiliki kesadaran akan kebersihan. Bisa saja setelah berkontak langsung dengan temannya yang sakit, sang anak akan tertular penyakit dari temannya tersebut. Begitu pun sebaliknya,” ujarnya.

Lakukan pencegahan ringan pada gangguan pernapasan anak dengan pemutusan kontak langsung dengan bakteri atau virus, seperti saat di luar ruangan atau saat di ruangan berdebu. Gunakan masker atau antibiotik agar tubuh anak terlindung sebelum terkena reaksi langsung dari debu atau asap kendaraan bermotor.

Jika sudah terlihat tanda-tanda alergi, lakukan pengobatan segera dengan mengunjungi dokter THT.

Yang terpenting ialah, jaga kebersihan kamar anak agar volume debu tak terlalu banyak. Karena, debu tersebut bisa memicu datangnya tungau yang akan memperparah alergi pada anak.

Biasakan anak untuk mencuci tangan setelah berpergian dan bersentuhan dengan orang lain. Karena, orangtua tak akan bisa memprediksi datangnya kuman dan bakteri yang menyebabkan flu, serta alergi pernapasan yang mengganggu kesehatan putra-putri kesayangan.(*)


++++

Artikel terkait...